Bukan Cuma Musim Hujan! Ini Alasan Nyamuk DBD Juga Makin Ganas Saat Kemarau

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:19 WIB
Ilustrasi nyamuk DBD
Ilustrasi nyamuk DBD

RADARTUBAN - Demam Berdarah Dengue (DBD) selama ini identik sebagai bahaya yang hanya mengintai saat musim hujan tiba. Namun, pandangan umum tersebut nyatanya keliru, sebab lonjakan populasi nyamuk Aedes aegypti juga kerap mengintai di tengah teriknya musim kemarau.

Ketika genangan air akibat guyuran hujan menghilang, banyak pihak berasumsi bahwa ancaman penularan virus dengue otomatis mereda.

Padahal, fenomena maraknya serangan nyamuk pengisap darah di tengah musim kering memiliki penjelasan ilmiah yang mutlak dan patut diwaspadai masyarakat.

Baca Juga: 12 Warga Tuban Meninggal Akibat DBD Sepanjang 2025, Merakurak Jadi Wilayah Tertinggi

Spesies Aedes aegypti, yang bertindak sebagai vektor utama penular virus DBD terbukti memiliki daya tahan biologis yang sangat luar biasa terhadap kondisi lingkungan ekstrem.

Telur-telur nyamuk ini mampu bertahan dalam keadaan kering hingga berbulan-bulan tanpa kehilangan daya tetasnya. Begitu menempel pada dinding wadah dan mendapatkan kontak dengan air sedikit saja, telur tersebut dapat segera menetas menjadi larva.

Situasi hangat dan kering justru memberikan keuntungan ekologis yang signifikan bagi Aedes aegypti jika dibandingkan dengan spesies Aedes albopictus.

Kenaikan suhu udara rata-rata beserta durasi musim kemarau yang makin panjang terbukti berbanding lurus dengan peningkatan populasi nyamuk ini di area permukiman.

Selain adaptasi biologis serangga, perubahan perilaku masyarakat selama periode kemarau menjadi pendorong utama meledaknya habitat baru bagi nyamuk.

Kelangkaan atau ketidakstabilan pasokan air bersih memaksa warga untuk lebih sering menampung air dalam jumlah banyak.

Berbagai tempat penampungan air domestik, seperti ember besar, bak mandi, vas bunga, wadah penampungan air dispenser, hingga ban bekas di pekarangan sering kali dibiarkan terbuka tanpa penutup yang rapat.

Jika wadah-wadah tersebut jarang dibersihkan atau dikuras secara berkala, kondisi air tenang di dalamnya berubah menjadi sarang bertelur yang paling ideal bagi nyamuk.

Faktor lain yang tidak kalah krusial adalah hubungan mendasar antara suhu udara dan tingkat keagresifan nyamuk.

Data dan penelitian ilmiah yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkapkan bahwa frekuensi gigitan nyamuk berbanding lurus dengan pergeseran temperatur lingkungan.

Hasil studi menunjukkan bahwa pada suhu lingkungan sekitar 25 derajat Celsius, nyamuk mencatatkan frekuensi menggigit rata-rata sekali dalam lima hari.

Uniknya, ketika terjadi penyesuaian temperatur hingga 20 derajat Celsius, interval gigitan tersebut memendek menjadi sekali dalam dua hari. Perubahan dinamika ini menegaskan bahwa kondisi iklim kering dan terik khas musim kemarau di Indonesia memicu potensi lonjakan kasus DBD yang cukup masif.

Untuk mengantisipasi sekaligus memutus rantai penularan virus DBD di tengah musim kemarau, masyarakat diimbau untuk tidak mengendurkan kewaspadaan.

Kedisiplinan dalam menjalankan gerakan 3M Plus secara konsisten tetap menjadi kunci utama perlindungan kesehatan keluarga:

Langkah Ekstra (Plus) untuk Perlindungan Maksimal:

Menghadapi lonjakan populasi nyamuk Aedes aegypti di musim kemarau, kewaspadaan masyarakat tidak boleh surut hanya karena cuaca sedang terik. Konsisten menerapkan langkah preventif 3M Plus, risiko penularan Demam Berdarah Dengue akan dapat ditekan. (*)

 

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
virus dengue musim kemarau nyamuk dbd Aedes aegypti dbd