Gen Z Dilarang Baper! Raymond Chin Ungkap 3 Kebiasaan yang Bisa Hambat Karier

Nadia Aulia • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 11:58 WIB
Raymond menyoroti tiga kebiasan Gen Z. (Tangkapan layar youtube Raymondchins)
Raymond menyoroti tiga kebiasan Gen Z. (Tangkapan layar youtube Raymondchins)

RADARTUBAN – Gen Z sering disebut sebagai generasi yang paling melek teknologi, tetapi apakah mereka sudah siap menghadapi kerasnya dunia kerja?

Pertanyaan itu kembali muncul di tengah fenomena generasi muda yang semakin vokal soal kesehatan mental, work-life balance, dan lingkungan kerja yang sehat. 

Pengusaha sekaligus content creator Raymond Chin kemudian mengungkap tiga kebiasaan yang menurutnya menjadi penghambat Gen Z dalam membangun karier dan bertahan dalam dunia profesional.

Raymond menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukan untuk merendahkan Gen Z. Ia justru mengakui generasi muda memiliki kecerdasan, kreativitas, serta akses informasi yang luas. 

Baca Juga: Bukan Cuma Soal Gengsi, Ini Alasan Gen Z Rela Berutang demi iPhone dan MacBook

Dalam pemaparannya, Ia membeberkan tiga kelemahan fatal yang paling sering dijumpai pada Gen Z. 

Pertama, "Baperan". Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah kecenderungan membawa persoalan emosional ke dalam pekerjaan.

Ia menilai sebagian Gen Z masih kesulitan memisahkan urusan pribadi dan profesional. Ia juga menyoroti penggunaan isu kesehatan mental sebagai alasan untuk membenarkan sikap yang kurang profesional.

“Professional is professional... kalau lu udah komit ngelakuin sesuatu, lu komit ngelakuin sesuatu. Mood lu lagi jelek, mood lu lagi bagus... you get the job done,” ujar Raymond.

Menurutnya, dunia kerja tetap menuntut seseorang untuk bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang telah menjadi komitmen. 

Kritik atau tekanan dalam pekerjaan seharusnya dapat menjadi bagian dari proses belajar, bukan selalu dianggap sebagai bentuk serangan pribadi.

Kedua "Naif",  Ia  menyoroti cara Gen Z dalam mengonsumsi informasi di media sosial. Paparan konten mengenai kesuksesan, gaya hidup mewah, gaji tinggi, hingga konsep work-life balance dinilai dapat menciptakan ekspektasi yang tidak realistis jika diterima tanpa berpikir kritis.

“Jangan naif, semua yang di sosial media 99% itu fake,” kata Raymond.

Mengingatkan Gen Z untuk selalu mempertanyakan alasan di balik sebuah konten dan tidak langsung mempercayai apa yang terlihat di media sosial.

Kritik ketiga "Instan", berkaitan dengan keinginan memperoleh hasil secara cepat. Menurutnya, kemudahan teknologi membuat sebagian Gen Z terbiasa mencari jalan pintas untuk mencapai kesuksesan.

Baca Juga: Tren Kuliner Manis Gen Z, Ketika Sweet Tooth Mulai Menjadi Pembunuh Usia Muda

Padahal, keberhasilan dalam karier membutuhkan proses, pengalaman, kegagalan, serta kemampuan untuk bertahan dalam situasi sulit.

Dibalik tiga kelamahan gen Z tersebut, Ia melihat potensi besar yang dimiliki Gen Z dan menjadi harapan bangsa.

Karena itu, Raymond mendorong generasi muda untuk tetap rendah hati, terbuka terhadap kritik, dan mau belajar dari generasi sebelumnya, seperti Milenial, Gen X, maupun Baby Boomer.

Untuk Gen Z, kritik diatas dapat menjadi bahan evaluasi untuk membangun pola pikir yang lebih matang di dunia profesional.

Kreativitas dan kecepatan beradaptasi yang menjadi kekuatan Gen Z, akan semakin kuat jika diimbangi dengan etos kerja, pengalaman, kemampuan menerima kritik, serta bertahan dalam  proses. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Gen Z karier raymond chin