RADARTUBAN- Definisi cantik sering kali membuat banyak orang merasa harus mengejar tampilan fisik tertentu.
Namun jika dilihat dari sejarah, kriteria wajah ideal atau bentuk tubuh idaman sebenarnya tidak pernah konstan dan selalu berganti seiring berjalannya waktu.
Dilansir dari video di kanal YouTube Dari Suara dengan tajuk Kenapa Standar Kecantikan Berubah-ubah? Definisi cantik ternyata bukan semata-mata soal seni atau estetika fisik yang murni.
Lebih dari itu, kriteria fisik ini hadir sebagai penanda status sosial di tengah masyarakat.
Pada era kolonialisme misalnya, standar fisik seseorang sangat dipengaruhi oleh hirarki sosial yang berlaku.
Baca Juga: Pancarkan Keindahan, 7 Tanda Perempuan dengan Kepribadian Cantik Alami Menurut Psikologi
Dikutip dari penjelasan dalam video tersebut, memiliki kulit putih bersih pada zaman dulu menandakan bahwa seseorang berasal dari kelas atas atau bangsawan yang tidak perlu bekerja kasar di bawah terik matahari.
Sebaliknya, kulit yang lebih gelap sering diasosiasikan dengan rakyat biasa yang harus membanting tulang di luar ruangan.
Masuk ke era modern, masyarakat kebanyakan bekerja di dalam ruangan sehingga tren kecantikan bergeser ke kulit Tan karena dianggap memiliki banyak waktu untuk liburan, kemudian pergeseran fenomena ini terasa semakin cepat akibat kehadiran media sosial.
Algoritma digital, tren visual, hingga filter kamera memperparah tekanan sosial terhadap cara pandang tubuh ideal.
Orang-orang kini tidak hanya melihat standar kecantikan di lingkungan sekitar, melainkan diterpa oleh ribuan visual ideal dari berbagai belahan dunia setiap harinya.
Tekanan visual ini menciptakan sebuah pola dan siklus yang terus berulang dalam kehidupan bermasyarakat.
Standar mengenai penampilan fisik tidak pernah dibentuk secara alami oleh perorangan, melainkan dikonstruksi secara masif oleh industri, media, serta kondisi ekonomi-politik di zamannya.
Saat suatu tren visual sudah bisa diakses oleh banyak orang, industri akan menciptakan standar baru agar tetap ada hal baru yang dikejar oleh konsumen.
Kesimpulannya, definisi cantik akan terus berubah karena ia lahir dari nilai sosial yang bergeser, bukan aturan baku yang sifatnya mutlak.
Mengikuti tren penampilan fisik tanpa henti hanya akan melelahkan, sebab apa yang dianggap ideal hari ini bisa jadi dianggap biasa saja di masa mendatang.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni