Suami Menganggur, Istri Jadi Tulang Punggung: Ketika Beban Rumah Tangga Tak Lagi Seimbang

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 17:26 WIB
Foto wanita yang menjadi tulang punggung demi menghidupi keluargan. (Tangkapan layar youtube Noe)
Foto wanita yang menjadi tulang punggung demi menghidupi keluargan. (Tangkapan layar youtube Noe)

RADARTUBAN - Pergeseran peran dalam kehidupan rumah tangga kini menjadi salah satu fenomena sosial yang kian marak diperbincangkan.

Jika dahulu gelar "tulang punggung" identik dengan sosok suami yang memeras keringat demi keluarga, kini tidak sedikit perempuan yang justru harus memikul seluruh beban ekonomi sendirian.

Dilansir dari ulasan kanal YouTube Noe, fenomena ini bukan sekadar keresahan biasa, melainkan pola yang perlahan menggejala di masyarakat.

Banyak perempuan yang kini tak hanya menjadi tulang punggung, tetapi juga merangkap sebagai penopang utama seluruh kerangka rumah tangga.

Sementara itu, sebagian suami yang sehat secara fisik justru memilih bertahan dalam zona nyaman pengangguran akibat terkungkung gengsi dan ketakutan untuk memulai pekerjaan dari bawah.

Baca Juga: Dibalik Tawa Boiyen dan Anwar Sanjaya: Cerita Tulang Punggung Keluarga hingga Ketenangan Usai Badai

Kondisi ini memicu ketimpangan peran yang berujung pada tingginya beban mental (mental load) sang istri. 

Setiap hari, istri harus memeras otak dan tenaga untuk mencari nafkah, lalu kembali ke rumah disambut oleh tugas domestik yang tak kunjung usai tanpa adanya kerja sama dari pasangan. Akibatnya, banyak perempuan mengalami burnout atau kelelahan ekstrem secara fisik maupun emosional, hingga akhirnya memicu lonjakan angka cerai gugat di pengadilan agama.

Masalah kerap memuncak ketika ketidakberdayaan finansial tersebut beriringan dengan gaya hidup pasif dan kemalasan. Tanpa aktivitas produktif, sebagian pria rentan terjerumus ke dalam perilaku destruktif seperti judi online hingga meminjam dana melalui pinjaman online (pinjol) menggunakan identitas sang istri.

Pada titik ini, peran kepala rumah tangga yang seharusnya menjadi pelindung justru berubah menjadi ancaman nyata bagi stabilitas dan keamanan keluarga.

Dampak dari fenomena ini tidak berhenti pada pasangan suami istri saja, melainkan berpotensi diwariskan kepada generasi berikutnya.

Anak-anak yang tumbuh dan mengamati dinamika relasi orang tua mereka berisiko mengadopsi pola pikir yang salah mengenai arti tanggung jawab. Anak laki-laki berpotensi menganggap wajar eksploitasi terhadap

 perempuan, sedangkan anak perempuan berisiko mengalami trauma psikologis yang membuat mereka enggan berkomitmen dalam pernikahan.

Pada akhirnya, keharmonisan sebuah rumah tangga tidak ditentukan oleh retorika status atau tuntutan untuk dihormati semata.

Pernikahan memerlukan komitmen, kerja sama tim, dan kesadaran penuh dari kedua belah pihak untuk saling menopang serta menurunkan ego demi menjalankan tanggung jawab bersama. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
rumah tangga istri tulang punggung