Jangan Terjebak! Ini Alasan Karier E-Sport Tak Semudah yang Dibayangkan Anak Muda

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 08:11 WIB
Atmosfer panggung turnamen e-sport profesional yang menawarkan popularitas dan hadiah besar. (RADARTUBAN/AI)
Atmosfer panggung turnamen e-sport profesional yang menawarkan popularitas dan hadiah besar. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN - Fenomena online game dan dunia e-sport yang terus berkembang pesat kerap disajikan media sebagai tambang emas bagi generasi muda.

Penghasilan miliaran rupiah hingga popularitas instan menjadi daya tarik utama yang memikat jutaan anak muda untuk bermimpi menjadi pro player. 

Namun, di balik kemilau kesuksesan para bintang industri tersebut, terdapat realita kelam yang jarang tersingkap yaitu survivorship bias, kerugian waktu produktif, isolasi sosial, hingga ancaman masa depan akibat singkatnya usia karir atlet e-sport.

Dikutip dari kanal YouTube Edutektif, dijelaskan bahwa kita cenderung hanya melihat segelintir orang yang selamat atau berhasil dan mengira hal itu sebagai sesuatu yang umum, padahal jutaan orang lainnya justru mengalami kegagalan total.

Banyak generasi muda yang beranggapan bahwa berkarir di dunia game pasti menjamin masa depan.

Baca Juga: Cari Bibit Atlet Esports, Kapolri Perintahkan Polres hingga Polda Gelar Kompetisi Rutin

Hal ini dipicu oleh kisah segelintir orang yang berhasil mengubah kegemarannya bermain game di dalam kamar menjadi kekayaan berlimpah. 

Namun, pandangan ini dinilai sebagai kekeliruan berpikir akibat survivorship bias, yaitu kecenderungan hanya melihat mereka yang berhasil dan menganggapnya sebagai hal yang umum, seraya mengabaikan jutaan orang lain yang mengalami kegagalan total.

Sebagai gambaran matematis, di Indonesia terdapat lebih dari 50 juta pemain aktif game populer Mobile Legends. Namun, panggung kompetisi profesional tingkat atas seperti Mobile Legends Professional League (MPL) Indonesia umumnya hanya menampung sekitar 9 tim dengan total kurang lebih 90 pemain profesional.

Secara statistik, peluang seorang pemain awam untuk menembus liga profesional jauh lebih kecil dibandingkan peluang diterima di universitas ternama dunia seperti Harvard atau lulus seleksi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Ketimpangan statistik seperti ini juga terjadi pada cabang olahraga tradisional lainnya di dunia.

Dari sekitar 1,5 juta anak yang bermain sepak bola di Inggris, hanya sekitar 108 orang yang berhasil menembus Premier League. Industri ini membentuk piramida yang sangat tajam, di mana satu orang yang berdiri di puncak pada dasarnya berdiri di atas jutaan orang lain yang gagal di bawahnya.

Industri e-sport dan gim daring memang menyediakan peluang karir dan hiburan, namun keputusan untuk menjadikannya sebagai jalan hidup utama memerlukan kesadaran diri yang tinggi serta pertimbangan probabilitas yang realistis. Mengakui batas kemampuan bukanlah bentuk kekalahan, melainkan langkah awal untuk mengeksplorasi potensi diri di bidang lain. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
survivorship bias Penghasilan e-Sport game online generasi muda