Bagaimana Perspektif Hewan Terhadap Musik Manusia? Studi Ungkap Faktanya

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 11:15 WIB
Analisis eksperimen persepsi suara dan respons emosional satwa terhadap musik yang diunggah oleh kanal YouTube Howtown. (Magnific)
Analisis eksperimen persepsi suara dan respons emosional satwa terhadap musik yang diunggah oleh kanal YouTube Howtown. (Magnific)

RADARTUBAN - Memutarkan musik favorit untuk hewan peliharaan sering dianggap sebagai bentuk perhatian. Padahal, bagi mayoritas satwa, melodi buatan manusia tidak memiliki makna emosional dan justru dianggap sebagai kebisingan yang mengganggu.

Fenomena persepsi musik pada satwa ini diulas secara mendalam melalui studi akustik yang dirangkum oleh kanal YouTube sains Howtown.

Pengujian laboratorium menunjukkan, mayoritas hewan secara konsisten lebih memilih suasana hening atau tanpa suara dibandingkan harus mendengarkan alunan musik manusia.

Baca Juga: Berkebun di Dasar Laut: Eksperimen Ilmuwan Italia Kembangkan Pertanian Bawah Laut

Eksperimen yang melibatkan primata seperti cotton-top tamarind dan orang utan menjadi bukti nyata. Dalam pengujian ruang labirin, para primata secara aktif memilih bergerak menuju area yang tenang. 

Bahkan, ketika orang utan diberikan akses langsung untuk memilih jenis suara melalui layar sentuh, mereka secara signifikan lebih sering memilih opsi tanpa suara.

Saat dipaparkan berbagai genre musik manusia, beberapa individu primata tersebut justru memperlihatkan indikasi dan tanda-tanda stres.

Perbedaan Struktur Sistem Saraf dan Pemrosesan Otak

Peneliti menjelaskan bahwa perbedaan reaksi ekstrem ini berakar pada evolusi biologis serta cara otak memproses frekuensi nada.

Otak manusia secara alami memiliki kemampuan mengenali pola, memprediksi tempo irama, serta merespons rasio matematis nada yang memicu pelepasan hormon emosional.

Di sisi lain, otak hewan tidak memiliki sistem penghargaan (reward system) yang terhubung dengan pola melodi manusia.

Sistem reward pada hewan umumnya baru bereaksi terhadap pola suara jika disertai dorongan eksternal spesifik, seperti pelatihan bernilai makanan (food stimulus) atau efek obat-obatan.

Musik buatan manusia pada dasarnya dirancang khusus sesuai dengan skala akustik emosional spesies manusia saja. Akibatnya, rentang pendengaran dan insting satwa gagal menerjemahkan melodi tersebut sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Pengecualian Unik: Burung Kakatua hingga Anjing

Kendati demikian, dunia satwa tidak sepenuhnya asing dengan respons irama. Beberapa spesies tertentu memperlihatkan bakat biologis istimewa yang disebut complex vocal learning.

Spesies seperti burung kakatua dan anjing laut terbukti mampu memprediksi tempo lagu dan menggerakkan tubuh mereka secara terkoordinasi mengikuti irama.

Kemampuan menari ini berakar dari kapasitas otak mereka dalam meniru dan memproses vokalisasi kompleks.

Sementara itu, respons unik pada anjing saat mendengarkan nada tinggi atau instrumen musik tertentu sebenarnya merupakan turunan dari insting kawanan serigala.

Melalui respons suara tersebut, anjing memanfaatkan nada sebagai sarana komunikasi kelompok untuk menyelaraskan ritme kawanan, bukan karena menikmati estetika musik tersebut.

Para ilmuwan menyimpulkan, bahwa apresiasi terhadap musik sangat bergantung pada keterpaparan sejak dini dan evolusi biologis masing-masing spesies.

Jika ingin menyajikan hiburan berbasis audio bagi hewan, manusia perlu merancang pendekatan akustik khusus yang disesuaikan dengan frekuensi serta insting pendengaran alami satwa itu sendiri. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
musik favorit untuk hewan musik manusia eksperimen hewan