Efek Ajaib ASMR Bagi Otak, Bisa Jadi Senjata Ampuh Redakan Cemas dan Insomnia

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 16:15 WIB
Foto ilustrasi saat seseorang melakukan ASMR (youtube.com/ Kok Bisa)
Foto ilustrasi saat seseorang melakukan ASMR (youtube.com/ Kok Bisa)

RADARTUBAN - Fenomena getaran suara Autonomous Sensory Meridian Response atau ASMR kini kian populer sebagai metode terapi audio yang mampu merangsang kerja otak untuk menghadirkan ketenangan instan.

Tren pendengaran berfrekuensi konstan dan lembut ini terbukti secara medis ampuh membantu meredakan tingkat cemas berlebih hingga memicu kualitas tidur yang lebih nyenyak.

Rangsangan auditori seperti bisikan halus, ketukan jemari, hingga gemerisik benda terbukti secara ilmiah sanggup memicu sensasi geli menenangkan di area kulit kepala hingga menjalar ke bagian punggung.

Ulasan dari kanal edukasi YouTube Kok Bisa menyebutkan bahwa sensasi unik ini bekerja langsung menstimulasi sistem saraf pusat manusia.

Saat seseorang mendengarkan rekaman audio terapeutik tersebut, organ saraf akan terdorong untuk melepas kombinasi hormon khusus yang berdampak positif pada kondisi psikologis pendengarnya.

Secara medis, riset menunjukkan bahwa paparan audio konstan memicu pelepasan hormon oksitosin dan dopamin secara alami.

Dua senyawa kimia biologis inilah yang bertanggung jawab menghadirkan perasaan nyaman, bahagia, sekaligus secara drastis memangkas kadar stres dalam waktu singkat.

Efek Menenangkan bagi Pendengar Berisiko Stres

Dampak positif dari ASMR ini diperkuat melalui eksperimen ilmiah yang melibatkan dua kelompok penguji, yakni individu dengan kondisi psikologis stabil dan kelompok yang mengalami tekanan pikiran berat.

Ketika kedua kelompok disajikan konten visual serta audio khusus, peneliti menemukan fakta mengejutkan mengenai respons emosional mereka.

Suasana hati dari kedua kelompok tersebut sama-sama mengalami kenaikan tren positif pasca-intervensi audio.

Namun, kelompok individu yang sedang mengalami stres berat mencatatkan lonjakan respons menenangkan yang paling signifikan dibandingkan kelompok kontrol.

Temuan studi ilmiah ini sejalan dengan kecenderungan bahwa individu yang memiliki tingkat kecemasan tinggi serta emosi kurang stabil justru lebih peka dalam menyerap manfaat positif.

Gelombang audio ASMR yang pelan dan repetitif bertindak layaknya pelipur lara yang efektif menjernihkan pikiran yang sedang dilanda kekacauan emosional.

Tak heran, popularitas tren audio ini sempat meroket pesat pada masa pandemi Covid-19 sebagai sarana pelepas penat utama bagi masyarakat saat harus beraktivitas mandiri di rumah.

Tidak Semua Orang Cocok dan Risiko Toleransi Otak

Meskipun menyajikan segudang manfaat terapeutik untuk meredakan beban emosional harian, para ahli mengingatkan bahwa respons tubuh terhadap fenomena audio ini bersifat sangat personal.

Hingga saat ini memang belum ada bukti medis yang menyatakan bahwa kebiasaan mendengarkan rangsangan audio ini berbahaya bagi kesehatan organ fisik manusia.

Kendati demikian, kenyataannya tidak semua orang memiliki kompatibilitas biologis yang sama terhadap tren ini. 

Sebagian individu justru melaporkan perasaan tidak nyaman, terganggu, bahkan mengalami gejala pusing serta mual saat mendengarkan getaran audio tertentu.

Reaksi penolakan ini dinilai wajar oleh para pakar, mengingat tingkat sensitivitas auditori dan preferensi selera musik setiap individu memang berbeda-beda.

Di samping itu, pengguna disarankan untuk tetap bijak dan tidak bergantung secara berlebihan pada tayangan audio ini.

Penelitian mencatat bahwa organ pemikir manusia berpotensi mengalami fase kejenuhan jika terus-menerus terpapar oleh ritme yang identik dalam kurun waktu lama.

Akibat dari munculnya batas toleransi tersebut, efektivitas dan sensasi yang tadinya terasa kuat berisiko memudar hingga akhirnya tak lagi mempan memicu ketenangan.

Oleh sebab itu, pemberian jeda waktu atau manipulasi frekuensi pendengaran sangat dianjurkan agar jaringan saraf tetap dapat merespons daya ajaib dari sensasi audio ini secara optimal. (*)

 

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
asmr Autonomous Sensory Meridian Response efek ajaib asmr audio