RADARTUBAN - Penyebaran konten edukasi dan informasi riset ilmiah di ruang digital Indonesia rupanya masih menghadapi tantangan berat serta resistensi tinggi di media sosial.
Meski banyak kreator membagikan pengetahuan secara gratis, kolom komentar kerap dipenuhi nada sinis, perundungan, hingga penolakan eksplisit dari warganet.
Fenomena psikologis serta budaya literasi masyarakat digital ini diulas mendalam oleh kanal edukasi YouTube Pertajam Pola Pikir.
Berdasarkan ulasan tersebut, sedikitnya ada lima faktor utama yang melatarbelakangi mengapa usaha mengedukasi warganet di Indonesia terasa sangat menantang dan kerap memicu reaksi defensif dari audiens.
Baca Juga: Ini Alasan Kenapa Komentar Netizen Lebih Kejam dari Realita
Efek Anonimitas dan Ketidaksiapan Mental
Faktor pertama yang menjadi pemantik utama adalah online disinhibition effect atau efek anonimitas di ruang siber.
Keberadaan akun tanpa identitas asli atau penggunaan akun palsu menciptakan ilusi rasa aman bagi pengguna.
Hal ini memicu keberanian semu untuk melontarkan celaan serta kritik destruktif tanpa beban moral maupun konsekuensi sosial sebagaimana yang berlaku di dunia nyata.
Faktor kedua dan ketiga berakar pada kesiapan emosional serta budaya dalam menerima masukan baru.
Sebagian besar masyarakat digital belum terbiasa mencerna data yang berseberangan dengan pola pikir lama mereka.
Ketika disajikan pemahaman baru yang mematahkan asumsi sebelumnya, timbul ketidaknyamanan psikologis berupa cognitive dissonance (disonansi kognitif).
Alih-alih melakukan verifikasi data atau berdiskusi secara sehat, audiens cenderung mengambil sikap defensif dengan menyerang pembuat materi.
Rendahnya Literasi dan Bias Figuran
Faktor keempat yang tidak kalah krusial adalah masih rendahnya tingkat literasi digital. Keterbatasan kemampuan literasi membuat pengguna media sosial kesulitan memisahkan antara fakta obyektif dengan sebatas opini pribadi.
Minimnya kebiasaan berpikir kritis (critical thinking) ini menyebabkan penyampaian pesan yang sedikit kompleks sering kali disalahartikan dan memicu ledakan reaksi emosional.
Sementara itu, faktor kelima tercermin dari kecenderungan netizen yang lebih mementingkan aspek figur (person) ketimbang substansi (substance) pesan yang disampaikan.
Kebenaran sebuah data ilmiah kerap ditolak mentah-mentah hanya karena audiens tidak menyukai latar belakang sang komunikator.
Sebaliknya, informasi tanpa dasar kuat justru dipercayai sepenuhnya apabila diucapkan oleh figur idola mereka.
Pentingnya Kedewasaan Berinteraksi di Ruang Digital
Fenomena penolakan terhadap materi edukatif ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pengguna media sosial di Tanah Air.
Di tengah derasnya arus informasi modern, kemampuan memilah bacaan serta keterbukaan pikiran sangat dibutuhkan agar ruang digital tidak sekadar menjadi tempat penyebaran sensasi dan konflik.
Peningkatan literasi digital serta keberanian untuk berpikir kritis merupakan kunci utama untuk membangun ekosistem siber yang sehat.
Tanpa adanya kedewasaan dari warganet dalam menerima kebenaran objektif, akses pengetahuan yang semakin terbuka luas di internet berisiko terbuang sia-sia. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari