Barang Bekas di Denmark Bukan Simbol Kemiskinan, Daur Ulang Jadi Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Nadia Aulia • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 12:00 WIB
Fasilitas pengelolaan sampah& Genbrug di Denmark yang tertata rapi dan bersih. (youtube.com/Salsa Erwina )
Fasilitas pengelolaan sampah& Genbrug di Denmark yang tertata rapi dan bersih. (youtube.com/Salsa Erwina )

RADARTUBAN - Pandangan bahwa barang bekas (secondhand) selalu identik dengan keterbatasan ekonomi kini perlahan bergeser. Namun, di Denmark justru menjadi sebuah gaya hidup ramah lingkungan. 

Kebiasaan mengonsumsi barang bekas dan pengelolaan sampah modern telah bertransformasi menjadi bagian dari simbol kesadaran ekologis masyarakat modern.

Pengalaman inspiratif tersebut dibagikan oleh Salsa Erwina, seorang konten kreator sekaligus aktivis lingkungan asal Indonesia. 

Dia mendalami dan mengamati secara langsung ekosistem pengelolaan barang bekas serta fasilitas daur ulang bernama Genbrug di negara Skandinavia tersebut.

Baca Juga: Terungkap! Ini Alasan Plastik Baru Masih Lebih Murah Dibanding Plastik Daur Ulang

Menurut Salsa, kebiasaan masyarakat Denmark dalam memanfaatkan barang bekas memiliki perbedaan yang sangat mencolok jika dibandingkan dengan pola konsumsi di Indonesia maupun sejumlah negara Asia lainnya. 

Di Denmark, barang-barang yang sudah tidak terpakai sama sekali tidak dipandang sebagai sampah tak berguna, melainkan aset bernilai yang siap disalurkan kembali.

Bebas Stigma Sosial: Barang Bekas Dijual hingga Dibagikan Gratis

Masyarakat setempat biasa menjual, mendaur ulang, atau bahkan membagikan barang tak terpakai secara cuma-cuma kepada siapapun yang membutuhkan.

Tidak ada kelas sosial atau pandangan sebelah mata bagi mereka yang memilih berbelanja barang secondhand.

"Di sini tuh tidak ada stigma kalau kamu pakai barang bekas berarti miskin atau tidak mampu. Justru malah sebaliknya, itu hal yang sangat normal bagi masyarakat untuk membeli barang bekas," ungkap Salsa Erwina dalam siaran pengalamannya.

Tumbuhnya budaya barang bekas ini berakar kuat pada gaya hidup minimalis yang dianut warga Skandinavia.

Warga cenderung enggan menimbun barang yang sudah tidak difungsikan di dalam rumah. 

Selain itu, tingginya kualitas furnitur desainer maupun perabotan vintage membuat barang bekas di sana tetap memiliki nilai estetika dan daya tahan yang sangat baik.

Faktor efisiensi finansial juga menjadi pendorong utama. 

Tingginya pajak pembelian dan beban biaya hidup di Denmark menjadikan opsi membeli barang bekas sebagai solusi cerdas untuk menghemat pengeluaran tanpa mengorbankan kualitas barang.

Sistem Genbrug dan Penerapan Ekonomi Sirkular Modern

Budaya konsumsi ini semakin solid karena didukung oleh sistem Genbrug, yaitu fasilitas pengelolaan dan daur ulang sampah milik komunitas setempat. 

Tempat ini dikelola dengan sangat bersih, teratur, dan higienis, di mana warga secara mandiri memilah sampah berdasarkan jenisnya mulai dari kaca, logam, kertas, kayu, barang elektronik, hingga perabotan besar seperti sofa.

Di area Genbrug, tersedia lapak khusus untuk barang-barang layak pakai yang dapat diambil secara gratis oleh warga yang membutuhkan. 

Sementara itu, sampah organik seperti limbah kebun diolah secara langsung menjadi kompos yang bisa dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.

Pola pengelolaan ini merupakan implementasi nyata dari konsep ekonomi sirkular (circular economy). Pendekatan ini berfokus pada perpanjangan masa guna suatu produk guna meminimalkan dampak eksploitasi lingkungan.

"Dengan menggunakan barang bekas, kita sebenarnya sedang berkontribusi menambah tahun penggunaan dari barang tersebut. Ini adalah prinsip circular economy nyata: bagaimana membuat roda ekonomi terus berputar dengan cara yang sustainable," tambah Salsa.

Catatan pengalaman ini menegaskan bahwa memanfaatkan barang bekas bukan sekadar dorongan efisiensi harga, melainkan bagian dari bentuk kesadaran ekologis modern. 

Denmark sukses membuktikan bahwa barang yang tak lagi terpakai selalu bisa mendapatkan kehidupan kedua yang bermanfaat bagi lingkungan dan sesama. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
gaya hidup ramah lingkungan genbrug daur ulang barang bekas denmark