Hemat Rp 4,5 Juta per Bulan, 3 Mahasiswa Jogja Sulap Kontrakan Jadi Farm Zero Waste

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 17:35 WIB
Taufik Azhari berada di area kebun kontrakan yang dikembangkan menjadi ekosistem pertanian terpadu berkonsep zero waste. (youtube.com/ OASIS)
Taufik Azhari berada di area kebun kontrakan yang dikembangkan menjadi ekosistem pertanian terpadu berkonsep zero waste. (youtube.com/ OASIS)

RADARTUBAN - Tiga mahasiswa di Yogyakarta sukses wujudkan mandiri pangan dan finansial lewat inovasi pertanian terpadu berkonsep zero waste memanfaatkan pekarangan lahan kontrakan sempit.

Tiga sosok muda kreatif tersebut adalah Taufik Azhari (Ziari), Fatur, dan Muhammad Asrul. 

Lewat tangan kreatif ketiganya, pekarangan rumah sewaan yang sangat terbatas disulap menjadi ekosistem integrated farming produktif yang menggabungkan sektor budidaya tanaman, peternakan, hingga pengolahan limbah mandiri secara berkelanjutan.

Baca Juga: Bisnis Nanas Jumbo Tanpa Duri di Galon Bekas, Jamaluddin Panen Nanas Jumbo 7 Kg Beromzet Menggiurkan

Pemanfaatan ruang yang mereka lakukan terbilang sangat optimal. Ketiga mahasiswa tersebut memaksimalkan kebun sayur berukuran 1x6 meter, kandang ayam petelur seluas 3x3 meter, kolam ikan lele 2x4 meter, serta pengolahan larva lalat Black Soldier Fly (magot BSF).

Ketekunan mengelola siklus nutrisi tertutup tersebut membuahkan hasil luar biasa dari segi efisiensi anggaran harian. 

Inisiatif ekologis ini berhasil memangkas biaya pengeluaran pangan dan konsumsi harian mereka hingga 70 persen, sekaligus menjadi pilar utama dalam membangun kemandirian finansial tanpa bergantung sepenuhnya pada sokongan orang tua.

"Awal pemikirannya adalah mengubah pola pikir bahwa melakukan kegiatan berkebun di rumah atau beternak hanya untuk orang tua. Kami ingin membantah itu. Bagaimana anak muda yang pensiun di awal itu justru lebih bagus; pangan aman, finansial aman. Bikin ketahanan pangan jadi uangnya bisa dikumpulkan untuk menyentuh financial freedom di usia kami," ujar Ziari, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan tersebut.

Sistem pertanian terpadu yang mereka jalankan mengusung prinsip siklus tanpa sisa atau zero waste

Sampah sisa dapur diolah langsung sebagai pakan utama budidaya magot BSF, yang selanjutnya dipanen untuk memenuhi pasokan nutrisi ayam petelur dan ikan lele.

Tak berhenti di situ, air buangan kolam lele yang kaya unsur hara serta kotoran ternak ayam diproses ulang menjadi pupuk organik cair dan padat.

Pupuk alami tersebut dimanfaatkan untuk menyuburkan aneka tanaman pangan harian, seperti pakcoy, kangkung, terong, dan tomat.

Dampak ekonomis dari penerapan ekosistem terintegrasi ini dirasakan amat signifikan. 

Sebelum mengadopsi sistem pertanian mandiri, akumulasi pengeluaran konsumsi mereka bertiga dapat menyentuh angka Rp6 juta per bulan. 

Kini, alokasi anggaran kebutuhan dasar dapur serta utilitas rumah dapat ditekan secara dramatis hingga tersisa maksimal Rp1,5 juta saja setiap bulannya.

Selain manfaat finansial, Ziari mengungkapkan bahwa aktivitas berkebun dan beternak di area hunian sewaan memberikan nilai edukasi emosional serta pengalaman spiritual yang berharga.

Keberhasilan menginspirasi ini membuat kisah ketiganya diliput stasiun televisi nasional. 

Tak ingin berhenti pada pencapaian pribadi, mereka menuangkan seluruh petunjuk teknis zero waste integrated farming ke dalam format e-book panduan yang dibagikan kepada publik melalui platform media digital.

"Kami menyarankannya bukan sekadar untuk menekan pengeluaran. Jadikanlah beternak, berkebun, dan berbudidaya di kontrakan masing-masing sebagai media pembelajaran untuk membangun spiritual, emosional, dan sosial," kata Ziari. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
mandiri pangan farm zero waste zero waste