Banyak Anak Banyak Rezeki? Neurosains Ungkap Respons Otak di Balik Ungkapan Ini

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 08:20 WIB
Seorang ibu bersama bayi dan anak-anaknya di pemukiman padat masyarakat rentan. (pinterest)
Seorang ibu bersama bayi dan anak-anaknya di pemukiman padat masyarakat rentan. (pinterest)

RADARTUBAN - Mitos kuno "banyak anak banyak rezeki" yang melekat kuat di tengah masyarakat miskin kerap dianggap publik sebagai dampak minimnya edukasi. 

Namun, dari sudut pandang neurosains, fenomena tersebut bukanlah sekadar urusan dogma semata, melainkan respons evolusi serta mekanisme biologis otak saat menghadapi ancaman ekonomi.

Kesenjangan angka kelahiran antara kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan kelas menengah ke atas memang memperlihatkan pola yang kontras. 

Saat kelas menengah memperhitungkan secara matang rencana finansial sebelum beranak-pinak, kelompok miskin justru cenderung memiliki anak dalam jumlah yang relatif lebih banyak. 

Baca Juga: Menkes Ungkap Alasan Banyak Orang Tua Enggan Vaksinasi Anak, Hoaks Jadi Faktor Utama

Kondisi kelangkaan sumber daya ini secara bawah sadar dibaca oleh otak sebagai situasi darurat kelangsungan hidup.

Dalam kacamata ilmu saraf, keterbatasan asupan gizi dan minimnya akses kesehatan memicu kekhawatiran biologis akan rendahnya usia harapan hidup.

Situasi rawan yang berlangsung terus-menerus ini mengaktifkan bagian otak bernama amigdala secara berlebihan untuk mengirimkan sinyal bertahan hidup (survival).

Stres finansial yang kronis dan tingginya kadar hormon kortisol pada akhirnya mengganggu kinerja prefrontal cortex

Padahal, bagian otak ini memegang peranan vital dalam mengolah pemikiran logis, perhitungan risiko, serta perencanaan jangka panjang.

Ketika prefrontal cortex tidak bekerja secara maksimal, daya analisis terhadap kalkulasi masa depan, seperti inflasi, tingginya biaya pendidikan, hingga jaminan kesehatan menjadi dikesampingkan.

Kelompok masyarakat rentan secara alami terdorong untuk berfokus penuh pada pemenuhan kebutuhan mendesak hari ini ketimbang melakukan perhitungan matang untuk dekade mendatang.

Selain respons amigdala, dinamika sistem penghargaan (reward system) di otak, khususnya pada area nucleus accumbens, turut membentuk pola pikir masyarakat miskin. 

Memiliki banyak anak kerap kali ditafsirkan oleh sistem kognitif sebagai bentuk investasi spekulatif untuk memperbaiki taraf hidup keluarga.

Secara tidak sadar, kehadiran banyak anak dipandang seperti peluang mendapatkan jackpot. Ada harapan implisit bahwa salah satu dari anak-anak tersebut kelak mampu meraih kesuksesan finansial dan membawa seluruh keluarga keluar dari lingkaran kemiskinan.

Antisipasi terhadap hasil besar tersebut sayangnya sering kali membuat sistem kognitif kurang mempertimbangkan beban dan proses panjang yang harus dilalui. 

Fokus otak terkunci pada potensi imbalan di masa depan tanpa memperhitungkan kesiapan daya dukung ekonomi saat ini.

Fenomena neurobiologis ini menjadi penanda kuat bahwa pendekatan sosialisasi Kesejahteraan Keluarga tidak bisa lagi sekadar mengandalkan imbauan moral. 

Negara dituntut hadir secara konkret untuk memperluas akses layanan kesehatan reproduksi yang terjangkau hingga ke pelosok.

Penyediaan sarana Keluarga Berencana (KB) secara gratis di Puskesmas serta pendampingan edukasi yang menyentuh akar kognitif masyarakat menjadi langkah krusial. 

Pemenuhan kebutuhan dasar dan stabilitas ekonomi pada akhirnya menjadi kunci utama agar fungsi analisis kognitif masyarakat dapat bekerja secara rasional dalam merencanakan masa depan keluarga. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
banyak anak banyak rezeki mitos banyak anak ekonomi Neurosains