RADARTUBAN – Perbedaan mendasar antara pensil dan pulpen sering kali memicu rasa penasaran masyarakat saat menulis.
Dikutip dari unggahan video di kanal YouTube Kok Bisa berjudul "Kenapa Pulpen gak bisa dihapus?", rahasia utama mengapa hasil coretan pensil sangat mudah dibersihkan sementara tinta pulpen menempel membandel terletak pada cara kedua alat tulis tersebut berinteraksi langsung dengan serat kertas.
Ketika seseorang menulis menggunakan pensil, serat grafit hanya menempel secara lunak di lapisan luar kertas sehingga mudah diangkat oleh penghapus.
Sebaliknya, tinta pulpen yang bersifat cair akan langsung meresap jauh ke dalam celah-celah serat lembaran kertas, membuat noda tersebut mustahil dihilangkan begitu saja tanpa merusak kertas.
Baca Juga: Kenapa Olahraga Kini Jadi Ajang Pamer? Fenomena FOMO dan Joki Strava Mulai Disorot
Adapun fenomena pulpen modern yang diklaim bisa dihapus terjadi berkat rekayasa bahan kimia khusus pada tintanya.
Tinta jenis ini sebenarnya tidak benar-benar hilang dari kertas, melainkan berubah warna menjadi transparan akibat suhu panas yang dihasilkan dari gesekan penghapus.
Uniknya, warna tinta yang tersembunyi tersebut dapat muncul kembali jika kertas dimasukkan ke dalam pendingin atau kulkas.
Secara historis, lahirnya alat tulis canggih yang kita nikmati hari ini melewati perjalanan evolusi yang sangat panjang.
Pada masa lampau, peradaban manusia menggunakan bulu angsa yang dicelupkan ke wadah tinta untuk mencatat dokumen.
Metode tradisional tersebut kemudian berkembang menjadi pena celup berwadah. Kendati demikian, hasil guratan tinta dari pena generasi awal ini kerap tidak konsisten dan sering merusak kerapian tulisan.
Kelemahan tersebut mendorong munculnya inovasi baru berupa pemasangan bola kecil di ujung pena, yang kini dikenal luas sebagai ballpoint.
Mekanisme kerjanya terbilang sederhana: saat ujung pen ditekan ke kertas, bola kecil tersebut akan berputar sekaligus mengalirkan tinta ke luar secara presisi.
Pada versi awal, pengguna masih diwajibkan menulis dalam posisi tegak lurus agar cairan tinta tidak meluber.
Masalah ini baru terpecahkan secara sempurna setelah penemu berikutnya menambahkan campuran minyak untuk mengubah tekstur tinta menjadi lebih kental.
Penggunaan tinta berbasis minyak ini memanfaatkan prinsip gaya kapilaritas. Fenomena fisika tersebut memungkinkan cairan terserap melalui celah-celah sempit kertas secara teratur, stabil, dan rapi tanpa khawatir membekas berlebihan.
Penemuan ballpoint modern kemudian menjadi pemicu revolusi besar dalam dunia literasi global.
Sebelum pulpen diproduksi secara massal dengan harga terjangkau, diperkirakan hanya sekitar 20 persen populasi dunia yang memiliki kemampuan membaca dan menulis akibat tingginya harga alat tulis.
Kehadiran pulpen yang murah memungkinkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari jurnalis, dokter, hingga penjaga warung dapat mencatat dan belajar dengan mudah.
Budaya mencatat ini secara masif meningkatkan tingkat literasi di berbagai belahan dunia.
Sayangnya, memasuki era digital saat ini, peran pulpen mulai tergeser oleh keyboard alat ketik dan layar sentuh gawai.
Banyak orang mulai meninggalkan kebiasaan menulis manual di atas kertas dalam aktivitas sehari-hari.
Padahal, berbagai penelitian neurosains membuktikan bahwa gerakan motorik saat menulis tangan secara aktif merangsang kinerja otak.
Aktivitas fisik ini efektif dalam meningkatkan daya ingat, melatih fokus, serta memperkuat konsentrasi jangka panjang.
Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk sesekali menutup layar gawai dan kembali membuka buku catatan.
Merasakan kembali sensasi menari bersama pulpen di atas lembaran kertas dapat menjadi sarana yang baik untuk menjaga ketajaman fungsi otak. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari