Takut Ditolak? Ini Cara Berhenti Menyenangkan Semua Orang dan Sembuh dari People Pleaser

Nadia Aulia • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 16:15 WIB
bersama dr. Yuliana yang membahas cara berhenti menjadi people please. (youtube.com/ Rintik Obrolan)
bersama dr. Yuliana yang membahas cara berhenti menjadi people please. (youtube.com/ Rintik Obrolan)

RADAR TUBAN - Keputusan untuk berhenti menyenangkan semua orang merupakan langkah awal yang sangat penting bagi siapa saja yang ingin sembuh dari people pleaser dan lepas dari bayang-bayang ketakutan akan penolakan.

Pentingnya berhenti menyenangkan semua orang ini menjadi fondasi utama dalam proses sembuh dari people pleaser, sebab kebiasaan selalu mengalah demi diterima lingkungan kerap mengorbankan kesehatan emosional serta jati diri seseorang.

Dengan mulai berhenti menyenangkan semua orang, seseorang yang berjuang untuk sembuh dari people pleaser dapat membangun kembali harga diri dan menetapkan batasan diri (personal boundaries) secara sehat dan manusiawi.

Baca Juga: Psikolog Ungkap Alasan Anak Muda Rentan Burnout, Ternyata Bukan Hanya karena Pekerjaan

Akar Psikologis dan Trauma Masa Lalu

Dalam ulasan psikologi bersama dr. Yuliana, dijelaskan bahwa perilaku people pleasing umumnya berakar dari pengalaman masa lalu atau trauma psikologis tertentu.

Perasaan takut ditolak (fear of rejection) serta haus akan pengakuan lingkungan mendorong seseorang terus mengiyakan permintaan orang lain, meski tindakan tersebut memicu rasa tidak nyaman.

Pengalaman masa kecil yang minim pujian, kurangnya kasih sayang, kesepian, hingga riwayat perundungan (bullying) turut membentuk pola perilaku ini.

Dampak dari trauma trauma tersebut terbawa hingga usia dewasa, membuat seseorang merasa berkewajiban memuaskan ekspektasi orang lain agar tidak diasingkan.

Memegang Kendali Diri sebagai Sosok Dewasa 

Upaya memutus rantai perilaku ini bukan berarti seseorang harus berubah menjadi pribadi yang acuh tak acuh atau egois.

Langkah transformatif ini dimulai dengan kesadaran penuh bahwa saat ini seseorang telah tumbuh menjadi individu dewasa yang berhak memegang kendali atas pilihan hidupnya sendiri.

"Sadari bahwa kamu sekarang adalah pribadi yang dewasa yang seharusnya bisa membedakan apa yang boleh kamu lakukan dengan tidak," jelas dr. Yuliana. 

Kesadaran tersebut harus dieksekusi dengan keberanian menetapkan batas-batas yang jelas dalam berinteraksi sosial sehari-hari.

Seseorang perlu belajar memilah antara permintaan yang wajar untuk dibantu dengan ajakan yang berpotensi merugikan kesehatan mental maupun kepentingan pribadinya.

Keberanian Menghadapi Penolakan dan Lingkungan Toksik

Proses pemulihan emosional ini juga menuntut keberanian untuk menerima fakta realistis bahwa tidak semua orang akan menyukai atau menyetujui setiap keputusan yang diambil.

Penolakan dari orang lain seharusnya tidak dijadikan indikator utama dalam mengukur harga diri atau kualitas pribadi seseorang.

Prinsip ini sangat relevan ketika seseorang harus berhadapan dengan lingkungan kerja atau pertemanan yang cenderung toksik.

Daripada menghabiskan energi untuk membuktikan diri kepada orang yang gemar merendahkan, fokus pada pengembangan potensi dan kualitas kinerja jauh lebih berharga.

Memahami Perilaku Orang Lain dan Merawat Diri

Langkah penting lainnya dalam menyembuhkan luka batin ini adalah cara pandang terhadap sikap negatif orang lain.

Sikap buruk, celaan, atau komentar negatif dari orang lain sejatinya lebih sering mencerminkan ketidakdamaian dan trauma dalam diri mereka sendiri, bukan kualifikasi diri kita.

"Belajar cuek, yang penting bagi saya adalah saya memberikan yang terbaik dari versi saya. Kinerja kita bisa menutupi fisik yang kita miliki," ungkap dr. Yuliana.

Ia menekankan bahwa reaksi atau penilaian orang lain tidak pernah menentukan siapa kita dan seberapa bernilainya kualitas diri yang kita miliki.

Memulihkan diri dari pola people pleaser adalah sebuah perjalanan bertahap untuk menghargai diri sendiri, merawat kesehatan mental, dan berani berkata "tidak" demi kebaikan pribadi. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
berhenti menyenangkan semua orang psokologis people pleaser kesehatan emosional