RADARTUBAN - Multitasking sering dianggap sebagai cara untuk menyelesaikan banyak pekerjaan dalam waktu singkat. Namun, kebiasaan berpindah-pindah fokus secara terus-menerus justru dapat membebani kerja otak.
Praktisi kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi menjelaskan, bahwa manusia sebenarnya tidak melakukan multitasking secara bersamaan, melainkan melakukan task switching atau berpindah fokus dari satu tugas ke tugas lainnya.
Penjelasannya disampaikan dalam video YouTube melalui kanal pribadinya, Tirta PengPengPeng.
Menurut dr. Tirta, kemampuan otak manusia tidak dapat disamakan dengan CPU komputer yang dirancang untuk memproses sejumlah instruksi secara paralel.
Ketika seseorang merasa sedang mengerjakan beberapa aktivitas sekaligus, otak sebenarnya bekerja dengan cara berpindah perhatian secara cepat.
Baca Juga: Work-Life Balance Bukan Mitos, Tapi Cara Bertahan di Dunia Kerja Modern
“Otak manusia pada dasarnya tidak seperti CPU yang dirancang untuk multitasking secara bersamaan dalam waktu terus-menerus, melainkan task switching, beralih tugas secara cepat, berganti fokus secara cepat, bukan multitasking,” ujarnya.
Kondisi yang menjadi persoalan adalah ketika dilakukan terus-menerus. Alih-alih meningkatkan produktivitas, terlalu sering berpindah tugas dapat meningkatkan beban kerja pada korteks prefrontal, bagian otak yang berperan dalam berbagai fungsi kognitif.
“Multitasking yang dilakukan secara terus-menerus berdasarkan paper itu meningkatkan beban kerja otak di korteks prefrontal, sehingga memperpendek attention span serta menurunkan kapasitas memori kerja,” jelasnya.
Dampaknya dapat dirasakan dalam aktivitas sehari-hari. Seseorang bisa menjadi lebih cepat lelah secara mental, sulit mempertahankan konsentrasi, hingga mengalami penurunan kemampuan mengingat informasi.
Karena itu, banyaknya aktivitas yang dikerjakan secara bersamaan tidak selalu menunjukkan seseorang bekerja lebih efektif.
dr. Tirta juga menyoroti kebiasaan multitasking yang telah muncul sejak usia anak-anak. Salah satu contoh yang sering ditemui adalah makan sambil menonton televisi, YouTube, atau bermain ponsel.
“Contoh multitasking yang sering dilakukan anak kecil adalah makan sambil nonton TV, makan sambil nonton YouTube, makan sambil main HP,” ungkapnya.
Kebiasaan-kebiasaan itu menunjukkan bahwa multitasking tidak hanya berkaitan dengan tuntutan pekerjaan. Penggunaan gawai dalam aktivitas sehari-hari juga dapat membuat seseorang terbiasa membagi perhatian, termasuk ketika sedang makan.
Di lingkungan kerja, fenomena serupa dapat terlihat ketika seseorang mengikuti beberapa rapat daring dalam waktu bersamaan.
“Zoom tiga sekaligus dalam waktu bersamaan itu tidak bisa. Itu sama aja menurunkan kognitif Anda,” tegasnya.
Pemaparan yang disampaikan menjadi pengingat bahwa produktivitas tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak pekerjaan yang dilakukan secara bersamaan.
Membiasakan fokus pada satu tugas, menyelesaikannya, kemudian beralih ke tugas berikutnya dapat menjadi pilihan baik untuk mengurangi beban kognitif akibat terlalu sering melakukan task switching. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari