Rahasia Diet Cepat dan Tepat dengan Metode Intermittent Fasting

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 13:15 WIB
Diet dengan metode puasa intermiten. (youtube.com/ DRV Channel)
Diet dengan metode puasa intermiten. (youtube.com/ DRV Channel)

RADARTUBAN - Tren intermittent fasting atau metode puasa intermiten kian populer di tengah masyarakat sebagai salah satu metode menurunkan berat badan secara cepat. 

Meski demikian, kepopuleran metode diet ini di media sosial sering kali membuat publik menerapkannya secara sembarangan tanpa memahami mekanisme biologis dan risiko kesehatan di baliknya.

Dilansir dari kanal YouTube DRV Channel, Ahli gizi dari Jakarta Varices Clinic dr. Andrea menegaskan, bahwa intermittent fasting bukanlah sekadar tren ikut-ikutan atau jalan pintas menuju berat badan ideal, melainkan sebuah metode diet atau pengaturan pola hidup yang memerlukan pemahaman mendalam terkait kondisi tubuh masing-masing individu.

Baca Juga: Inilah Mitos Diet yang Sering Disalahpahami, Penjelasan Dokter Diana dalam Podcast Nikita Willy

Prinsip utama dari metode ini berfokus pada pengaturan jam makan dan jam puasa. 

Secara umum, masyarakat menerapkan beberapa skema populer seperti metode 16 jam puasa dengan 8 jam jendela makan, skema 20 jam puasa dengan 4 jam jendela makan, hingga metode 5:2 yang membatasi kalori secara signifikan pada hari-hari tertentu.

Mekanisme Kerja dan Efek Hormonal di Dalam Tubuh

Secara medis, penurunan berat badan yang dialami pelaku intermittent fasting terjadi karena adanya perubahan mekanisme hormonal di dalam tubuh selama periode tidak mengonsumsi makanan. 

Ketika tubuh berada dalam kondisi puasa selama durasi tertentu, kadar hormon insulin akan mengalami penurunan secara drastis.

Kondisi insulin yang rendah inilah yang kemudian memicu tubuh untuk menghentikan penyimpanan energi baru dan mulai membakar cadangan lemak sebagai sumber energi utama. 

Proses metabolisme tersebut secara langsung mendorong efisiensi pembakaran lemak tubuh dan membantu penurunan berat badan secara terukur.

Selain membantu mengontrol berat badan, intermittent fasting juga terbukti memberikan dampak positif bagi kesehatan metabolik secara keseluruhan. 

Metode ini mampu meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan risiko penyakit diabetes melitus, meredakan tingkat peradangan kronis di dalam tubuh, serta menjaga kesehatan jantung melalui penurunan tekanan darah dan kadar kolesterol.

Kunci Sukses: Nutrisi Sehat dan Adaptasi Bertahap

Namun, dr. Andrea mengingatkan bahwa manfaat kesehatan tersebut tidak bisa didapatkan secara instan dan memerlukan konsistensi serta kepatuhan pada aturan nutrisi yang benar. 

Dia menyoroti banyaknya pemula yang salah kaprah dengan mengabaikan kualitas makanan saat jendela makan dibuka.

"Berdasarkan penelitian, pembatasan kalori dan pemilihan jenis makanan yang sehat tetap memberikan dampak yang jauh lebih positif terhadap tubuh dibandingkan hanya menjalankan jam puasanya saja tetapi pilihan makanannya bebas," ujar dr. Andrea.

Dia menambahkan, bahwa masa adaptasi awal sering kali mendatangkan gejala seperti tubuh lemas, suasana hati yang tidak stabil, serta keinginan makan yang melonjak tajam. 

Oleh karena itu, para pemula disarankan untuk memulainya secara bertahap, mulai dari jendela makan yang lebih longgar sebelum mempersempit jam makan secara perlahan.

Risiko Kesehatan dan Kelompok yang Tidak Disarankan

Metode puasa intermiten ini juga dipastikan tidak cocok untuk semua orang. Kelompok rentan seperti anak-anak, remaja, ibu hamil, ibu menyusui, penderita penyakit kronis tertentu, serta penderita sakit maag atau gangguan asam lambung sangat tidak dianjurkan untuk menerapkannya tanpa pengawasan medis.

Penghentian asupan makanan yang terlalu lama pada penderita maag justru berisiko memicu lonjakan asam lambung yang berujung pada peradangan organ pencernaan. Oleh sebab itu, konsultasi medis menjadi langkah krusial sebelum seseorang memutuskan untuk mengubah pola makan secara drastis. 

"Ingat bahwa intermittent fasting bukan jalan pintas, melainkan salah satu metode yang dapat kita gunakan untuk memulai pola hidup sehat. Pastikan kita memilih pola diet yang paling sesuai dengan tubuh kita masing-masing," pungkas dr. Andrea.

Keberhasilan pola hidup sehat tidak ditentukan oleh seberapa ekstrem metode yang dijalani, melainkan sejauh mana seseorang mampu memadukan pola makan bergizi, kecukupan hidrasi, istirahat yang berkualitas, serta olahraga teratur secara berkelanjutan. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
metode diet puasa intermiten jendela makan berat badan Intermittent fasting