Semakin Dewasa Lingkaran Pertemanan Menyempit, Apakah Itu Hal yang Wajar?

Nadia Aulia • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 17:31 WIB
Sejumlah orang dewasa yang tengah menikmati waktu bersama dalan suasana yang santai. (pinterest.com)
Sejumlah orang dewasa yang tengah menikmati waktu bersama dalan suasana yang santai. (pinterest.com)

RADARTUBAN - Memasuki usia dewasa, lingkaran pertemanan sering kali semakin menyempit.

Teman yang dahulu mudah ditemui setiap hari perlahan menghilang dan  jarang berkomunikasi. Sehingga banyak menarik kesimpulan, apakah berkurangnya teman merupakan tanda seseorang semakin dewasa?

Youtuber Ghibran Arrazi melalui kanal youtube pribadinya, menjelaskan bahwa perubahan jumlah teman tidak selalu berarti seseorang menjadi antisosial atau tidak disukai.

Perubahan lingkungan dan prioritas hidup turut memengaruhi hubungan sosial seseorang.

Saat masih bersekolah, seseorang memiliki kesempatan bertemu teman secara otomatis karena berada dalam lingkungan dan rutinitas yang sama.

Baca Juga: Kenapa Banyak Pertemanan Berakhir Meski Tidak Pernah Bertengkar? Ternyata Ada Penjelasannya

Setiap hari ada ruang untuk berbincang, belajar, hingga bermain bersama. Namun, berubah ketika memasuki usia dewasa.

“Dulu itu kita punya kesempatan, sekarang kita tuh harus punya alasan dulu untuk bisa ketemu,” ujar Ghibran.

Memasuki usia 20-an, kehidupan mulai dipenuhi berbagai tanggung jawab, seperti pendidikan, pekerjaan, karier, keuangan, dan keluarga.

Waktu luang pun menjadi semakin terbatas. Bertemu teman tidak lagi menjadi aktivitas yang mudah dilakukan tanpa perencanaan.

Bahkan, waktu kosong sering kali lebih dipilih untuk beristirahat dan memulihkan energi.

Waktu luang ketika dewasa terasa lebih berharga karena setelahnya seseorang kembali menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Perubahan fase hidup juga dapat menjadi proses seleksi alam dalam pertemanan.

Pindah kota, menyelesaikan skripsi, mendapatkan pekerjaan, atau memasuki lingkungan baru membuat seseorang memiliki kesibukan dan prioritas berbeda. Akibatnya, hubungan dengan sejumlah teman dapat merenggang secara perlahan.

“Banyak dari kita enggak sadar kalau banyak teman-teman kita yang dulunya dekat tapi kita enggak sadar kalau itu adalah akhir dari pertemuan kita,” katanya.

Selain jumlah, standar dalam memilih teman juga turut  berubah. Orang dewasa cenderung mencari hubungan yang memberikan kenyamanan, kecocokan dalam berbicara, kesamaan humor, serta ruang untuk menjadi diri sendiri. Karena itu, memiliki sedikit teman tidak selalu berarti kesepian.

Media sosial juga tidak dapat dijadikan ukuran kedalaman pertemanan.

Banyaknya pengikut atau interaksi di dunia maya belum tentu menunjukkan siapa yang benar-benar hadir ketika seseorang membutuhkan bantuan.

Meski demikian, berkurangnya teman tidak seharusnya selalu dir romantisasi sebagai tanda kedewasaan. 

Ia mengingatkan bahwa faktor dari dalam diri juga perlu diperhatikan. Seseorang mungkin memiliki sedikit teman karena terlalu menutup diri, mudah tersinggung, atau enggan berkompromi.

“Bisa jadi lu punya teman yang sedikit itu karena memang lunya yang baperan, lunya yang kurang asik, lunya yang sering nutup diri,” tuturnya.

Memiliki lingkaran pertemanan yang lebih kecil saat dewasa merupakan hal yang wajar.

Yang terpenting bukan seberapa banyak orang yang berada di sekitar, melainkan seberapa bermakna hubungan dan bagaimana seseorang tetap mampu menjaga relasi tanpa kehilangan dirinya sendiri.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
orang dewasa hubungan teman pertemanan