Mengapa Gelar Sarjana Tak Cukup Buat Kerja? Ini Alasan Perusahaan Lebih Memburu Keterampilan Praktis

Nadia Aulia • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 08:11 WIB
Lulusan sarjana menghadapi tantangan memasuki dunia kerja. (Radar Tuban/ AI)
Lulusan sarjana menghadapi tantangan memasuki dunia kerja. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN - Gelar sarjana tak lagi menjadi jaminan mutlak untuk mendapatkan pekerjaan layak di tengah ketatnya persaingan dunia kerja saat ini. 

Perjalanan empat tahun menempuh bangku kuliah hingga menyusun skripsi kerap dihadapkan pada realitas tingginya kesenjangan antara teori akademik dan kebutuhan dunia industri.

Persoalan utama pendidikan modern dinilai masih berfokus pada pencapaian nilai, teori, dan status gelar. 

Sementara itu, keterampilan praktis seperti komunikasi, pemecahan masalah, kreativitas, adaptasi, dan kerja sama tim justru kerap terabaikan.

Baca Juga: Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan, Lulusan Kampus Terancam Krisis Lapangan Kerja

Dunia Kerja Butuh Nilai Nyata

Kondisi tersebut menjadi sorotan dalam tayangan YouTube edukasi Satu Persen – Indonesian Life School bertajuk “Kenapa Sarjana Sekarang Makin Susah Cari Duit?”. 

Video tersebut mengkritisi pergeseran standar pasar kerja yang tak lagi sekadar melihat lembar ijazah.

“Pasar tak peduli gelar apa yang dimiliki. Pasar hanya peduli pada apa yang bisa dibuat dan kontribusi nyata yang diberikan,” ungkap narasi penjelasan dalam video Satu Persen.

Pernyataan ini menegaskan bahwa ijazah memang membuktikan seseorang telah menyelesaikan pendidikan, namun perusahaan tetap memprioritaskan kemampuan yang memberikan nilai nyata bagi industri.

Pentingnya Perubahan Pola Pikir

Pandangan senada juga memicu respons dari warganet. Salah satu pengguna YouTube dengan akun @Ganjar.Kurniawan menilai persoalan dasar pendidikan terletak pada pola pikir masyarakat dalam memandang fungsi kuliah.

“Problem utamanya bukan cuma masalah anggaran atau gaji guru, melainkan mindset dan cara pandang masyarakat kita sendiri,” tulis akun tersebut di kolom komentar.

Menurutnya, lembaga pendidikan masih sering diposisikan sekadar sarana berburu gelar dan status sosial demi memenuhi syarat melamar kerja. 

Orientasi ini berisiko mengaburkan tujuan utama belajar, yakni menyerap ilmu pengetahuan dan mengasah keahlian.

Satu Persen turut menambahkan bahwa sistem pendidikan modern sejak awal lebih banyak membentuk kedisiplinan dan kepatuhan ketimbang melatih kemampuan menciptakan nilai mandiri. 

Meski begitu, gelar sarjana bukan berarti tidak berguna. Pendidikan tinggi tetap menjadi fondasi penting, asalkan lulusannya terus membekali diri dengan kemampuan beradaptasi dan eksekusi di lapangan. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
perusahaan kerja sarjana keterampilan industri