Daur Seni Ubah Sampah Jadi Kerajinan Bernilai Ekonomi, Sekaligus Berdayakan Kaum Marginal

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 17:58 WIB
hasil karya beberapa produk dari limbah menjadi karya yang bernilai jual. (Tangkapan layar Youtube DAAI Magazine)
hasil karya beberapa produk dari limbah menjadi karya yang bernilai jual. (Tangkapan layar Youtube DAAI Magazine)

RADARTUBAN - Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan sekaligus misi sosial terus digelorakan oleh komunitas Daur Seni di Jakarta Pusat.

Berkolaborasi dengan Rumah Laudato Si’, wadah ini mengubah sampah dan barang bekas, seperti kertas majalah, kain perca, kulit jagung, hingga tas spunbond menjadi aneka kerajinan tangan bernilai ekonomis tinggi.

Tak sekadar mengurangi timbunan sampah, Daur Seni hadir sebagai wadah pemberdayaan bagi masyarakat rentan, mulai dari lansia, ibu rumah tangga, anak panti asuhan, penyintas masalah kesehatan mental, hingga teman-teman disabilitas.

"Di tempat ini kita ada pelatihan, kemudian kita melatih apa saja. Berbagai macam produk seperti kertas lintingan, kemudian membuat produk-produk dari kulit jagung, dari spunbond, dan bahan-bahan yang sudah tidak dipakai kita daur ulang kembali," ujar pengurus Daur Seni, Cahyo, dalam tayangan di kanal YouTube DAAI Magazine.

Berdiri sejak tahun 2015, Daur Seni memanfaatkan berbagai teknik kreatif dalam mengolah limbah. Kertas bekas dan majalah diolah dengan cara dilinting, dianyam, serta dilapisi lem dan cat hingga mengeras. Hasilnya dibentuk menjadi tas cantik, tikar, hingga hiasan dekoratif.

Baca Juga: Barang Bekas di Denmark Bukan Simbol Kemiskinan, Daur Ulang Jadi Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Sementara itu, kulit jagung dikeringkan, direbus bersama pewarna, lalu dianyam menjadi tas, piring hias, dan bunga. Kain perca juga dijahit oleh teman-teman disabilitas menjadi cempal dapur dan celemek yang rapi.

Menariknya, Daur Seni memilih karakter burung hantu sebagai ikon resmi mereka. Burung hantu dipandang sebagai simbol kebijaksanaan untuk mengajak masyarakat lebih bijak mengolah barang bekas.

Selain itu, anatomi burung hantu yang fokus menatap ke depan namun tetap bisa menoleh ke sekeliling melambangkan fokus pada tujuan pelestarian bumi tanpa mengabaikan kepedulian sosial di sekitarnya.

"Harapan saya untuk kedepannya spirit yang sudah kita jalankan bisa diwariskan kepada generasi berikutnya supaya mereka punya nilai empati, memberdayakan orang lain, dan juga memanfaatkan barang-barang yang terbuang menjadi berkat," ujar Pendiri Daur Seni, Magda.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
sampah Ekonomis kelestarian lingkungan