RADARTUBAN - Kebaikan, perhatian, dan rasa aman yang diberikan pria ternyata bukan kunci utama yang memicu ketertarikan awal seorang wanita.
Psikolog klinis Dr. Orion Taraban menegaskan bahwa kualitas positif tersebut baru memiliki nilai setelah rasa tertarik secara fisik dan emosional terbentuk terlebih dahulu.
Hal itu dipaparkan Dr. Taraban saat menjadi narasumber dalam podcast The Diary of a CEO bersama Steven Bartlett.
Baca Juga: Perhatian atau Posesif? Kenali Tanda-Tanda Hubungan yang Mulai Tidak Sehat
Dalam wawancara tersebut, dia mengupas tuntas psikologi ketertarikan, kesalahan saat kencan pertama, hingga dinamika komunikasi dalam hubungan jangka panjang.
Menurut Dr. Taraban, banyak pria keliru menganggap sikap baik sebagai modal utama menarik perhatian wanita.
"Kebaikan bukan alat untuk menciptakan ketertarikan. Kebaikan adalah bonus yang dinikmati setelah ketertarikan sudah ada," ujar Dr. Taraban.
Pikiran dan Imajinasi Jadi Kunci Utama
Dr. Taraban menjelaskan, daya tarik pria tidak melulu ditentukan oleh penampilan fisik.
Cara berbicara, kehadiran di lingkungan sosial, dan kemampuan membangun ikatan emosional memegang peranan yang sangat krusial.
Bahkan, pikiran serta imajinasi wanita merupakan respons paling peka dalam proses pembentukan daya tarik.
"Organ paling sensitif wanita terhadap daya tarik bukan fisik, itu adalah pikirannya, otaknya, imajinasinya," kata Dr. Taraban.
Dalam hal komunikasi, dia menyoroti kesalahan pria yang cenderung terburu-buru memberikan solusi. Padahal, pasangan kerap kali hanya ingin perasaannya dipahami dan dirasakan.
"Pesan diterima bukan ketika kamu memahami isi pesannya, tapi ketika kamu ikut merasakan apa yang dia rasakan," tuturnya.
Kesalahan Kencan Pertama dan Ujian Hubungan Realistis
Terkait kesalahan pada kencan pertama, Dr. Taraban menyebut sikap pria yang terlalu banyak bicara atau memamerkan pencapaian demi membuktikan diri justru berakibat fatal.
Cara tersebut merusak ruang bagi munculnya rasa penasaran dan imajinasi pasangan.
Lebih lanjut, dia menerangkan bahwa ketika hubungan melangkah ke jenjang serius, pasangan pasti akan melewati fase shattering of fantasy.
Fase ini merupakan momen ketika gambaran ideal tentang pasangan mulai runtuh dan berganti dengan pandangan yang lebih realistis.
"Kekecewaan bukan tanda hubungan kamu gagal, kekecewaan adalah ujian apakah hubungan kamu nyata," ungkap Dr. Taraban.
Pada tahap ini, kelangsungan hubungan diuji melalui kesadaran pasangan untuk menerima kekurangan, menghadapi perbedaan, serta menjaga keseimbangan antara rasa aman melalui kreativitas agar dinamika asmara tetap terjaga. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari