Nyaman Curhat ke Chatbot AI, Hati-hati Terjebak Ketergantungan dan Hilang Rasa Percaya Diri

Nadia Aulia • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 17:20 WIB
Ilustrasi Merasa tenang ketika curhat dengan Chat GPT. (Radar Tuban/ AI)
Ilustrasi Merasa tenang ketika curhat dengan Chat GPT. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN - Kebiasaan menjadikan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai tempat curhat hingga bergantung dalam mengambil keputusan menyimpan bahaya serius bagi kemampuan berpikir kritis manusia. 

Meski dianggap sebagai pendengar yang tidak menghakimi dan selalu siap merespons persoalan asmara, pekerjaan, hingga percakapan sehari-hari, AI sejatinya bekerja memberikan validasi semu demi kenyamanan pengguna.

Validasi Semu Demi Orientasi Keuntungan Bisnis 

Dilansir dari tayangan video di kanal YouTube Ghibran Arrazi, AI merespons cerita berdasarkan sudut pandang tunggal yang dimasukkan pengguna. 

Kondisi ini membuat balasan chatbot cenderung menenangkan dan selalu membenarkan perasaan pengguna tanpa memberikan penilaian yang sepenuhnya objektif. 

Hal ini terjadi karena platform AI dirancang untuk menciptakan pengalaman pengguna yang menyenangkan demi kepentingan bisnis. 

"AI itu bisnis, orientasi mereka adalah keuntungan. Bagaimana mereka bisa mendapatkan keuntungan? Yaitu dengan cara membuat kenyamanan kepada penggunanya dengan memberikan validasi atas apa yang dirasakan," kata Ghibran Arrazi.

Ancaman Ketergantungan dan Hilangnya Keberanian Mandiri 

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan ketergantungan apabila terjadi berulang kali.

Pengguna yang terlalu sering meminta jawaban dari AI rentan meragukan kapasitas dirinya sendiri, hingga kehilangan keberanian dalam menentukan pilihan serta menghadapi konsekuensi secara mandiri. 

"Dampak yang paling berbahaya ketika kita terlalu sering ketergantungan nanya sama AI, kita tuh kehilangan kemampuan buat mengambil keputusan," tutur Ghibran. 

Selain itu, persoalan hubungan antarmanusia tidak selalu dapat dirangkum secara utuh lewat teks percakapan.

AI memiliki keterbatasan karena tidak mampu membaca konteks, ekspresi wajah, pengalaman emosional, serta situasi tak tertulis yang melandasi suatu masalah. 

Meski memahami bahwa keterbukaan pada AI kerap dipicu rasa takut membebani orang lain atau kekhawatiran rahasia tersebar, pengguna diimbau untuk tidak menyerahkan kendali pikirannya kepada teknologi. 

AI seharusnya hanya dimanfaatkan sebagai alat bantu mencari sudut pandang pertimbangan, sementara keputusan akhir tetap menjadi wewenang penuh manusia. 

"Yang benar itu adalah manusia menggunakan AI, bukan AI yang menggunakan manusia atau bukan kita yang diperbudak atau ketergantungan dengan AI," ujar Ghibran. 

Ia menegaskan pentingnya menjaga rasionalitas dan pemikiran kritis di tengah pesatnya perkembangan teknologi. 

"Secanggih-canggihnya AI atau teknologi yang kita gunakan, kita harus tetap menggunakan pemikiran kritis kita dan juga rasionalitas diri kita pribadi buat mengambil keputusan," pungkasnya. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
AI kecerdasan buatan curhat psikologis Ketergantungan