Konten Pendek Terus-Menerus Bisa Mengubah Kebiasaan Otak, Ini Penjelasannya

Salsa Mardhotun Nafisah • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 12:54 WIB
Dr. Ryan Keswani menjelaskan kemampuan otak beradaptasi terhadap berbagai stimulus dan kebiasaan yang dilakukan secara berulang. (Tangkapan layar Youtube)
Dr. Ryan Keswani menjelaskan kemampuan otak beradaptasi terhadap berbagai stimulus dan kebiasaan yang dilakukan secara berulang. (Tangkapan layar Youtube)

RADARTUBAN - Otak merupakan salah satu organ penting yang berperan dalam mengatur berbagai aktivitas manusia, mulai dari berpikir, mengingat, mengambil keputusan, hingga mengendalikan emosi.

Namun, kebiasaan sehari-hari dan informasi yang terus diterima dapat memengaruhi cara kerja otak.

Dalam video YouTube “Mengenal Otak Kita Lebih Jauh, Bersama Dr Ryan Keswani”, dokter Ryan Keswani menjelaskan bahwa otak memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap berbagai stimulus yang diterimanya. Kemampuan tersebut dikenal dengan istilah neuroplastisitas.

Neuroplastisitas memungkinkan otak membentuk dan menyesuaikan koneksi berdasarkan pengalaman serta kebiasaan yang dilakukan secara berulang.

Namun, kemampuan tersebut tidak selalu menghasilkan perubahan yang positif.

“Neuroplastisitas itu dia tidak selalu berarah baik. Dia bisa juga jadi buruk karena otak ini belajar dari apapun yang kita ajarkan ke dia,” ujar Dr. Ryan Keswani dalam tayangan YouTube TS Media 

Baca Juga: Konten Mindfulness Maudy Ayunda Tuai Kritik, Netizen Bandingkan dengan Cinta Laura

Salah satu kebiasaan yang menjadi perhatian adalah konsumsi konten pendek secara berlebihan. 

Konten yang cepat dan terus berganti dapat membuat seseorang terbiasa mendapatkan rangsangan dalam waktu singkat.

Menurut Dr. Ryan, kebiasaan tersebut dapat membuat otak terus mencari jenis rangsangan yang sama.

Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang terbiasa mengonsumsi konten pendek, otak dapat beradaptasi dengan pola tersebut.

“Kalau kita ajarkan dia bahwa konten yang pendek itu adalah sesuatu yang baik dikonsumsi, dia akan selalu craving ke hal yang sama,” jelasnya.

Selain membahas pengaruh konten pendek, Dr. Ryan juga menekankan pentingnya memberikan stimulus yang baik kepada otak. Salah satunya dengan terus belajar dan menghadapi berbagai tantangan baru.

Ia menyebut beberapa hal yang penting untuk menjaga fungsi otak, di antaranya memberikan stimulus melalui pembelajaran, tidur yang cukup dan berkualitas, memenuhi kebutuhan nutrisi, serta melakukan olahraga.

Kebiasaan memberikan rangsangan yang beragam juga dapat membantu otak tetap aktif. Karena itu, seseorang tidak hanya perlu mengonsumsi informasi, tetapi juga perlu memberikan waktu bagi otak untuk berpikir dan menghasilkan sesuatu.

Dr. Ryan juga mengingatkan pentingnya memberikan ruang bagi diri sendiri untuk merasa bosan.

Menurutnya, rasa bosan tidak selalu menjadi sesuatu yang negatif karena dapat memberikan kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari berbagai rangsangan yang terus masuk.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan otak tidak hanya dilakukan ketika seseorang sudah mengalami gangguan. Kebiasaan yang dilakukan sejak sekarang, termasuk memilih informasi yang dikonsumsi dan memberikan stimulus yang tepat, dapat menjadi bagian dari upaya menjaga fungsi otak dalam jangka panjang.

Otak merupakan bagian tubuh yang tidak dapat digantikan begitu saja. Karena itu, menjaga pola hidup, mengatur konsumsi informasi, dan terus memberikan stimulus positif menjadi hal yang penting untuk dilakukan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Neuroplastisitas Ryan Keswani otak konten