RADARTUBAN – Menyiapkan anak menghadapi tantangan masa depan dan perkembangan teknologi sering kali memicu kecemasan bagi para orang tua.
Psikolog klinis dan keluarga, Pritta Tyas, M.Psi., menekankan pentingnya penerapan ketegasan yang sehat tanpa harus melukai mental anak atau memicu rasa cemas berlebihan.
Dalam tayangan podcast Mom's Corner bersama Nikita Willy, Pritta menjelaskan bahwa langkah awal mendidik anak adalah menentukan nilai karakter dasar yang ingin dibentuk sejak dini.
Nilai-nilai tersebut meliputi ketangguhan (resilient), kegigihan (grit), kemampuan berkolaborasi, hingga rasa empati saat anak menginjak usia dewasa.
Menurut Pritta, kesalahan mendasar yang sering terjadi dalam pola pengasuhan adalah ekspektasi orang tua yang terlalu tinggi.
Orang tua kerap menuntut anak langsung paham hanya dengan sekali teguran, padahal perkembangan otak dan kemampuan kontrol diri anak belum matang.
Kebiasaan melabeli (labeling), menegur terlalu keras, hingga memburu-buru anak dapat meningkatkan hormon kortisol yang memicu stres.
Mengenal Konsep Kind and Firm Parenting
Guna mengatasi persoalan tersebut, Pritta mengenalkan konsep Kind and Firm Parenting.
Metode ini menggabungkan empati penuh pengertian (kind) dengan batasan yang tegas (firm).
Orang tua diajak melihat sudut pandang anak tanpa menghilangkan batasan aturan yang telah disepakati bersama secara konsisten, bukan melalui ancaman atau hukuman yang melukai hati.
Sebelum menerapkan ketegasan, Pritta membagikan tiga indikator utama yang wajib diperhatikan orang tua.
Yang pertama intonasi dan pilihan kata. Penggunaan bahasa harus dijaga agar tidak merusak harga diri anak atau memberikan labeling negatif.
Kemudian rasa aman (secure) yang berari orang tua tetap harus tegas tetapi tidak boleh memicu ketegangan pada sistem saraf anak atau membuat mereka merasa terancam.
Dan yang terakhir pemahaman konsekuensi secara tegas yang bertujuan membangun logika anak mengenai konsekuensi logis atas tindakan mereka, bukan memunculkan rasa takut pada orang tua.
Meluruskan Mitos Gentle Parenting
Pritta juga meluruskan anggapan keliru terkait fenomena gentle parenting yang sering dianggap permisif atau serba serba dibebaskan.
Menurutnya, batasan dan aturan konsisten tetap diperlukan untuk melatih kemampuan anak menunda kepuasan (delay gratification) serta membangun ketangguhan mental menghadapi kegagalan.
Ia menegaskan, anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, melainkan sosok yang hadir, mau mendampingi, dan belajar bersama.
Hal terpenting yang harus dirasakan anak hingga dewasa adalah rasa aman untuk berbuat salah, menyampaikan pendapat, serta rasa aman untuk kembali mencari dukungan keluarga. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari