RADARTUBAN - Pengalaman tidak menyenangkan pada masa lalu terkadang masih memengaruhi cara seseorang merespons berbagai situasi ketika dewasa.
Reaksi emosional yang terasa berlebihan terhadap pemicu tertentu bahkan dapat berkaitan dengan pengalaman masa lalu yang belum terselesaikan.
Hal tersebut dibahas Certified Clinical Hypnotherapist dr. Yuliana ketika menjadi narasumber dalam siniar Room for Improvement bersama Rory Asyari.
Dalam perbincangan tersebut, dia menjelaskan bagaimana pengalaman emosional yang membekas dapat memengaruhi respons seseorang terhadap kondisi yang dihadapi pada masa kini.
Baca Juga: Bukan Sekadar Ikhlas, Psikiater Ungkap Kunci Pemulihan Trauma Lewat Rekonsolidasi Memori
Menurut dr. Yuliana, persoalan tersebut tidak selalu terlihat dalam bentuk ingatan yang jelas.
Pada sebagian orang, pengalaman masa lalu dapat muncul kembali melalui respons emosional maupun keluhan fisik.
Ketika Luka Emosional Terasa Secara Fisik
Dr. Yuliana menjelaskan bahwa seseorang yang mengalami tekanan emosional dapat merasakan berbagai respons pada tubuh.
Di antaranya jantung berdebar, napas menjadi lebih cepat, hingga gangguan pada pencernaan.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti komputer. Organ tubuh dianalogikan sebagai hardware yang dapat terlihat baik-baik saja, sementara sistem yang mengatur respons tubuh diibaratkan sebagai software yang mengalami gangguan akibat pengalaman emosional yang menumpuk.
Menurut penjelasannya, respons stres dapat melibatkan hormon seperti kortisol dan adrenalin. Kondisi tersebut dapat memunculkan berbagai perubahan pada tubuh.
“Selama ini kita salah mencari alamat, salah tempat mengetok pintu. Bukannya memeriksa lab kedelapan atau kesembilan kali, kita harus mencari di mana sumber trauma itu berada,” ungkap dr. Yuliana.
Meski demikian, keluhan seperti nyeri dada, jantung berdebar atau gangguan pencernaan tidak otomatis berarti seseorang mengalami trauma.
Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan penyebab gejala fisik.
Trauma Kecil Juga Bisa Membekas
Dalam pembahasan tersebut, dr. Yuliana juga menyoroti pengalaman yang kerap dianggap sepele oleh lingkungan.
Perasaan diabaikan, dipermalukan, tidak didengarkan atau pengalaman lain yang membuat seseorang terluka secara emosional dapat meninggalkan bekas.
Baca Juga: Takut Mengeluarkan Uang? Bisa Jadi Itu Bukan Pelit, Melainkan Trauma Finansial
Masalahnya, pengalaman semacam itu terkadang justru dianggap berlebihan.
Seseorang yang mengungkapkan rasa sakitnya bahkan bisa mendapatkan label seperti “baper” atau “lebay”. Menurut dr. Yuliana, respons semacam itu dapat membuat seseorang semakin terbiasa memendam pengalaman emosionalnya.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti luka yang tidak mendapatkan penanganan. Semakin lama dibiarkan, persoalan yang awalnya terlihat kecil dapat menjadi beban yang lebih berat.
Dr. Yuliana juga menyampaikan berdasarkan pengalaman praktiknya, pola asuh pada masa kanak-kanak kerap menjadi bagian dari pengalaman yang membentuk luka emosional.
Ia menyebut pengalaman seperti sering dibandingkan, dibentak, mengalami kekerasan verbal atau fisik, hingga merasa ditinggalkan secara emosional.
Pernyataan mengenai pola asuh tersebut merupakan pandangan berdasarkan pengalaman praktik yang disampaikan dr. Yuliana dalam siniar, bukan angka prevalensi yang dapat digeneralisasi kepada seluruh orang yang mengalami trauma.
Mengenali Emosi Sebelum Bereaksi
Salah satu langkah yang dibahas dalam siniar tersebut adalah mengenali dan memberi nama pada emosi yang sedang dirasakan.
Alih-alih hanya menyebut sedang mengalami bad mood, seseorang dapat mencoba mengidentifikasi perasaan secara lebih spesifik, misalnya marah, takut, sedih, kecewa atau tidak percaya diri.
Pendekatan yang dikenal dengan istilah “name it to tame it” juga banyak digunakan dalam pembahasan mengenai regulasi emosi.
Intinya adalah memberi nama pada emosi agar seseorang lebih mampu mengenali pengalaman internal yang sedang terjadi.
Baca Juga: Ketua RW di Jakut Diduga Aniaya 5 Anak, Pelaku Alami Trauma Fisik dan Psikis
Mengenali emosi dapat menjadi langkah awal untuk memahami pemicu dan menentukan respons yang lebih tepat, alih-alih langsung bereaksi terhadap keadaan.
Jangan Menghadapi Semuanya Sendirian
Dr. Yuliana juga menyarankan seseorang yang sedang menghadapi beban emosional untuk mencari orang yang aman dan dapat dipercaya untuk berbagi cerita.
Orang tersebut diharapkan mampu mendengarkan tanpa menghakimi sehingga seseorang tidak harus memendam seluruh beban sendirian.
Jika pengalaman traumatis mulai mengganggu hubungan sosial, pekerjaan, aktivitas sehari-hari atau menimbulkan tekanan yang sulit dikendalikan, bantuan profesional juga dapat dipertimbangkan.
Dalam siniar tersebut, dr. Yuliana membahas hipnoterapi sebagai salah satu pendekatan yang digunakannya dalam menangani klien.
Penjelasan tersebut merupakan pendekatan yang ia gunakan dalam praktiknya dan tidak berarti hipnoterapi menjadi satu-satunya metode penanganan trauma.
Mamaafkan Bukan Berarti Memaksa Diri
Pembahasan mengenai trauma juga menyentuh persoalan memaafkan. Menurut dr. Yuliana, seseorang tidak perlu memaksakan diri untuk langsung memaafkan ketika rasa sakit dan kemarahan masih kuat.
Bagi dia, proses memahami serta mengolah luka terlebih dahulu menjadi bagian penting sebelum seseorang sampai pada tahap menerima pengalaman tersebut.
Dengan kata lain, memaafkan tidak harus menjadi langkah pertama.
Seseorang dapat terlebih dahulu mengenali apa yang dirasakan, memahami pengalaman yang menjadi pemicu, dan mencari dukungan yang dibutuhkan.
Di akhir perbincangan, dr. Yuliana menyampaikan pesan kepada orang-orang yang merasa lelah dalam proses menghadapi persoalan hidup.
Menurutnya, rasa lelah bukan berarti seseorang lemah. Ada kemungkinan beban yang dipikul sudah terlalu lama ditanggung seorang diri.
Ia mengajak orang yang sedang mengalami kondisi tersebut untuk mulai mencari “alamat yang tepat” dalam memahami dan menangani luka emosionalnya.
Proses menghadapi trauma memang tidak selalu berlangsung singkat.
Namun, mengenali emosi, mencari lingkungan yang aman, serta mendapatkan bantuan yang sesuai dapat menjadi bagian dari upaya untuk memahami diri dan membangun kehidupan yang lebih sehat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni