Sering Lelah Meski Tak Beraktivitas Berat? Ini Alasan Lelah Luar Biasa Akibat Kebiasaan Overthinking

Sita Devi Alfiyah • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 16:15 WIB
Mengubah overthinking menjadi daftar tindakan nyata adalah kunci untuk pikiran yang lebih tenang. (Radar Tuban/ AI)
Mengubah overthinking menjadi daftar tindakan nyata adalah kunci untuk pikiran yang lebih tenang. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN – Fenomena lelah mental akibat kebiasaan berpikir berlebihan (overthinking) kian marak dialami masyarakat modern.

Kepala yang terus-menerus memikirkan asumsi atau masalah yang belum tentu terjadi menjadi pemicu utama terkurasnya energi fisik maupun emosional.

Persoalan tersebut dibahas secara mendalam oleh komunikator sekaligus kreator konten Abdi Suardin melalui video edukasi di kanal YouTube pribadinya.

Baca Juga: 3 Kebiasaan Overthinking Ini Diam-Diam Bikin Darah Naik, Nomor 1 Sering Banget Dilakuin Pas Malam!

Dalam tayangan tersebut, Abdi menyoroti bagaimana pikiran yang tidak beristirahat dapat mengganggu kualitas hidup seseorang.

Menurut Abdi, kebiasaan overthinking kerap bermula dari ketidakmampuan seseorang dalam berdamai dengan ketidakpastian.

Buruknya, kebiasaan ini sering kali menyamar seolah-olah sebagai bentuk usaha dalam menyelesaikan masalah.

"Alih-alih mendapatkan jalan keluar, otak justru hanya berputar pada skenario kegagalan sehingga menguras banyak energi. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa seseorang bisa merasa sangat lelah meski fisiknya tidak melakukan aktivitas berat seharian," jelasnya.

Karakteristik dan Jebakan Overthinking

Lebih rinci, Abdi membeberkan beberapa karakteristik khas dari orang yang gemar overthinking.

Mereka cenderung terlalu sensitif terhadap perubahan kecil di lingkungan sekitar, sangat ragu mengambil keputusan demi menghindari rasa menyesal, serta sering kali terjebak pada penyesalan masa lalu maupun ketakutan akan masa depan.

Ia menambahkan, memaksakan pikiran agar berhenti beroperasi secara mendadak justru sering kali membuat suasana di dalam kepala menjadi makin ramai dan sesak.

Bedakan Pikiran dan Kenyataan

Sebagai solusi, Abdi membagikan metode sederhana namun berdampak besar, yakni belajar membedakan antara pikiran dan kenyataan secara objektif.

Ia menegaskan bahwa kendati otak mampu memproduksi ribuan pikiran tiap hari, manusia tidak memiliki kewajiban untuk mempercayai seluruh isi pikiran tersebut.

"Pikiranku diciptakan untuk membantu menjalani hidup, jangan sampai seluruh hidupku justru habis hanya karena hidup dalam pikiranku sendiri," ujar Abdi Suardin memberikan pesan tegas.

Abdi menyimpulkan bahwa tindakan nyata sekecil apa pun merupakan obat yang jauh lebih ampuh ketimbang merangkai ribuan skenario kekhawatiran di dalam kepala.

Jika sebuah masalah tidak bisa diselesaikan malam ini, ia mengimbau untuk mengizinkan masalah tersebut menunggu hingga esok hari. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Overhinking pikiran Emosional mental