Minum Kopi Saat Siang Bikin Kualitas Tidur Menurun, Ini Penjelasan Pakar Sleep Coach Bisal Dasani

Nadia Aulia • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 13:06 WIB
Ilustrasi seseorang yang tidak bisa tidur setelah mengonsumsi kopi. (Radar Tuban/ AI)
Ilustrasi seseorang yang tidak bisa tidur setelah mengonsumsi kopi. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN – Mengonsumsi segelas kopi setelah pukul 14.00 siang sering kali dianggap sebagai jurus ampuh untuk mengusir kantuk di tengah padatnya aktivitas.

Namun, di balik sensasi segar yang instan, kandungan kafein ternyata masih mampu bertahan hingga berjam-jam di dalam tubuh dan menggerogoti kualitas tidur pada malam hari.

Sleep coach Bisal Dasani dalam pemaparannya di Kelas Pakar kanal youtube Malaka menjelaskan, kafein memiliki waktu paruh yang terbilang cukup lama, yakni sekitar lima hingga delapan jam.

Artinya, sisa-sisa kafein yang diminum pada siang hari masih akan mengendap dalam sistem tubuh hingga saat jam tidur tiba.

Baca Juga: Mengenal Efek dan Bahaya Konsumsi Kafein Berlebihan bagi Tubuh Manusia

"Kafein itu 'parkirnya' lama, 5 sampai 8 jam dia parkir. Kalau misalnya selama ini Anda merasa sulit tidur atau bangun tidak fresh, coba cek konsumsi kafein Anda," ujar Bisal.

Menurutnya, dampak negatif kafein tidak melulu membuat seseorang sama sekali tidak bisa memejamkan mata.

Zat stimulan ini bekerja lebih halus dengan merusak porsi deep sleep (tidur dalam), sehingga fase pemulihan tubuh menjadi dangkal.

Alhasil, seseorang bisa saja tertidur lelap secara durasi, tetapi bangun dengan kondisi fisik yang tetap lelah.

Hal tersebut sangat berkaitan dengan mekanisme sleep pressure atau tekanan tidur alami tubuh.

Sepanjang hari, zat kimia adenosin terus menumpuk di otak untuk mendorongan timbulnya rasa kantuk.

Kafein kemudian bekerja dengan memblokir reseptor adenosin, sehingga sinyal lelah tersebut gagal ditangkap oleh otak.

Oleh karena itu, rasa segar seusai meminum kopi bukan menjadi indikator bahwa tubuh telah bugar kembali, melainkan hanya bentuk penundaan sinyal kantuk secara sementara.

Kuantitas dan Kualitas Tidur Tak Bisa Dipisahkan

Bisal juga meluruskan anggapan keliru masyarakat yang kerap mengesampingkan durasi demi mengejar kualitas tidur semata.

Menurutnya, kedua aspek tersebut saling mengunci satu sama lain.

Orang dewasa pada umumnya membutuhkan waktu tidur ideal sekitar tujuh hingga sembilan jam per malam.

"Sebetulnya kalau kita lihat secara penjelasan utamanya, tidak ada tidur yang berkualitas kalau kuantitasnya tidak cukup," tegasnya.

Tidur yang benar-benar memulihkan, lanjut Bisal, wajib memenuhi kriteria durasi yang pas, minim interupsi, serta mampu menyegarkan kembali kondisi fisik, mental, hingga stabilitas emosional.

Ia juga menambahkan, terbangun sesekali di tengah malam sebenarnya merupakan hal yang wajar dalam siklus tidur manusia.

Yang justru memicu insomnia berkepanjangan adalah reaksi panik sesaat setelah terbangun.

"Terbangun sesekali di tengah malam itu adalah hal yang normal. Yang membuat orang sulit tidur kembali adalah pada saat mereka bangun, mereka lihat jam lalu langsung melakukan kalkulasi," jelas Bisal.

Guna menjaga performa tidur tetap optimal, masyarakat diimbau untuk membiasakan proses unwinding atau relaksasi sebelum beranjak tidur.

Memberikan jeda bagi tubuh untuk menurunkan ritme kerja, mencatat beban tugas yang belum selesai, melakukan kegiatan menenangkan, serta menghindari kebiasaan doom scrolling di media sosial menjadi kunci penting pemulihan.

"Tidur adalah satu-satunya aktivitas kita sebagai makhluk hidup yang bisa memulihkan secara fisik, mental, dan emosional. Belum ada yang bisa menggantikan," pungkas Bisal. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
dampak negatif kopi kafein tidur