RADARTUBAN – Tantangan ekonomi masa kini menghadirkan dilema besar bagi generasi muda, khususnya dalam merencanakan masa depan dan dana pensiun di tengah kenaikan biaya hidup yang kian melesat.
Fenomena ketimpangan antara pendapatan harian dan laju inflasi ini menjadi topik hangat yang dikupas tuntas dalam unggahan video di kanal YouTube pribadi Raymond Chin berjudul Cara "Bertahan Hidup" Untuk Gaji UMR & Sandwich Generation.
Dalam diskusi interaktif tersebut, Raymond Chin menghadirkan Theo Derick serta seorang praktisi perbankan, Joko.
Baca Juga: Ingin Nabung 50 Persen Gaji? Konten Kreator Ungkap 10 Kebiasaan Keuangan Sederhana
Di tengah ketatnya persaingan dunia kerja dan lonjakan biaya hidup yang jauh melebihi kemampuan menabung bulanan, muncul kekhawatiran nyata bahwa para pekerja bergaji Upah Minimum Regional (UMR) akan kesulitan mencapai kemandirian finansial pada hari tua.
Kondisi ini kian memprihatinkan bagi mereka yang terjebak sebagai sandwich generation.
Mereka harus menanggung beban finansial dua generasi sekaligus, yakni orang tua dan anak-anak mereka.
Tanpa adanya kesadaran literasi keuangan serta perubahan pola pikir (mindset) sejak dini, siklus beban finansial bertumpuk ini dikhawatirkan terus berulang dari generasi ke generasi tanpa jalan keluar.
Fokus Tingkatkan Kapasitas Diri dan Pendapatan
Menurut Theo Derick, kunci utama untuk keluar dari jeratan kesulitan finansial bukanlah sekadar pusing memikirkan pilihan instrumen investasi yang rumit di awal perjalanan.
Lebih dari itu, prioritas terpenting terletak pada bagaimana cara meningkatkan kapasitas serta nilai diri (value) agar mampu mendongkrak pendapatan secara bertahap.
"Kalau orang ketemu saya misalnya bertanya, 'Bagaimana caranya income saya naik? Mau investasi apa?' Bukan itu pertanyaannya. Pertanyaannya adalah kamu mau belajar apa setelah ini supaya value kenaikan kamu itu bisa ditukarkan dengan uang," tegas Theo Derick.
Ia menilai, banyak masyarakat di tingkat ekonomi pemula terlalu fokus mencari jalan pintas melalui investasi berrisiko tinggi, ketimbang mengasah keahlian baru (upskilling) yang secara langsung bisa meningkatkan daya tawar mereka di pasar kerja maupun dunia usaha.
Bangun Kedisiplinan dan Hindari Victim Mentality
Senada dengan pandangan tersebut, praktisi perbankan Joko menekankan bahwa kedisiplinan dalam mengelola arus kas (cashflow) serta konsistensi menyisihkan sebagian pendapatan sejak awal memegang peranan yang sangat penting.
Mengatur keuangan bukan soal seberapa besar gaji yang diterima, melainkan seberapa disiplin seseorang mengontrol pengeluaran dan membangun dana darurat.
Perencanaan yang matang sejak memasuki usia produktif menjadi fondasi utama keselamatan finansial masa depan.
Selain itu, kemauan untuk terus memperkaya keterampilan di tengah situasi ekonomi yang penuh tekanan menjadi benteng penting agar seseorang tidak terjebak dalam mentalitas korban (victim mentality).
Menyalahkan keadaan atau latar belakang ekonomi keluarga hanya akan menghentikan langkah seseorang untuk berkembang.
Melalui literasi keuangan yang inklusif dan edukasi publik secara berkesinambungan, masyarakat berpenghasilan UMR diharapkan dapat lebih terarah dalam merancang strategi masa depan finansial yang layak.
Dengan penguasaan keterampilan baru, manajemen keuangan yang tertata, serta konsistensi sejak usia muda, impian untuk memutus rantai sandwich generation dan menikmati masa tua yang mandiri bukan lagi sekadar angan-angan milik kalangan mampu saja. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari