Peringatkan Krisis Pangan 2027, Mardigu Wowiek Minta Warga Waspadai Lonjakan Harga Bahan Pokok

Nadiyatul Ul Ya • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 15:02 WIB
Bosman memberikan fakta tentang ancaman krisis pangan global. (Radar Tuban/ AI)
Bosman memberikan fakta tentang ancaman krisis pangan global. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN – Pengamat ekonomi dan sosial Mardigu Wowiek Prasantyo mengingatkan masyarakat luas untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi krisis pangan global yang diprediksi bakal memuncak pada 2027 mendatang.

Ancaman krisis tersebut dinilai tidak lepas dari eskalasi konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung terhadap tersendatnya rantai pasok logistik dunia, khususnya ketersediaan bahan baku pupuk komersial.

Baca Juga: Bukan Semata Tak Bisa Atur Uang, Ini Alasan Tekanan Ekonomi Bikin Keputusan Finansial Jadi Berisiko

Menurut Mardigu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah bukan sekadar persoalan perebutan wilayah biasa.

Melainkan menyangkut kepentingan strategis jangka panjang yang berpotensi melambungkan harga komoditas global, termasuk minyak bumi dan komoditas bahan pokok.

Dampak paling nyata bagi sektor pertanian domestik maupun global adalah ancaman kelangkaan hingga 40 persen pasokan bahan baku pupuk NPK (Nitrogen, Phospat, Kalium) yang selama ini mayoritas disuplai dari kawasan tersebut.

Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu lonjakan biaya produksi pertanian secara masif, yang pada muaranya akan melahirkan efek domino berupa kenaikan harga bahan pokok di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Sayangnya, ia menilai kesadaran serta langkah antisipasi konkret baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat masih sangat minim dalam merespons ancaman nyata ini.

"Kita ini bakal terjadi, tapi tidak prepare sama sekali. Masyarakat harapannya adalah mudah-mudahan rupiah nanti menguat, mudah-mudahan nanti ini jadi. Semuanya pakai mudah-mudahan, tapi tidak ada usahanya," tegas Mardigu dalam tayangan podcast di kanal YouTube Ngaji Rasa 26.

Lindungi Aset Lewat Logam Mulia

Sebagai langkah taktis perlindungan nilai kekayaan di tengah ketidakpastian ekonomi global serta ancaman lonjakan inflasi, Mardigu menyarankan masyarakat untuk mulai mengalihkan sebagian aset ke instrumen safe haven, seperti emas dan perak untuk jangka panjang.

Ia menilai instrumen logam mulia memiliki nilai intrinsik yang jauh lebih stabil dan tahan banting dibandingkan uang kertas (fiat money) yang rentan terdevaluasi akibat kebijakan pencetakan uang oleh bank sentral. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
krisis global ketidakpastian ekonomi pangan bahan pokok