RADARTUBAN – Di balik kemajuan pesat Korea Selatan sebagai raksasa ekonomi global, tersimpan sebuah realitas kerja yang kerap dinilai tidak masuk akal oleh banyak orang.
Fenomena ini bermula dari sejarah panjang pasca-Perang Korea pada dekade 1950-an, di mana pemerintah saat itu mendorong industrialisasi secara agresif.
Dikutip dari kanal YouTube Kacamata dunia 99 dalam video berjudul Mengapa Jam kerja di Korea Selatan Sangat Tidak Masuk Akal, disebutkan bahwa kerja keras pada masa itu dipandang sebagai perjuangan nasional demi membangun kembali negara.
Baca Juga: Korea Selatan Hadapi Krisis Demografi Serius, Angka Fertilitas Masih Jauh di Bawah Level Penggantian
Mentalitas tersebut melekat erat hingga membentuk budaya kerja yang menuntut dedikasi tinggi serta jam operasional yang sangat panjang bagi para pekerjanya sehari-hari.
Sistem Pendidikan yang Kompetitif
Tekanan hidup dan bekerja di negara ini semakin diperparah oleh sistem pendidikan yang sangat kompetitif sejak usia dini.
Para pelajar harus menghabiskan waktu berjam-jam di sekolah formal maupun lembaga tambahan (hagwon) hingga larut malam demi bisa masuk ke jajaran universitas elit.
Budaya serba cepat atau yang dikenal sebagai prinsip ppalli-ppalli juga mendominasi dunia profesional, membuat standar perusahaan raksasa menjadi sangat ketat.
"Ppali-Ppali menjadi salah satu bagian budaya pembangunan Korea Selatan. Karena negara ini tidak memiliki waktu untuk berjalan santai, mereka sedang mengejar. Dan selama beberapa dekade strategi itu berhasil," bunyi narasi dalam tayangan video tersebut.
Sisi Gelap dan Tuntutan Perubahan Generasi Muda
Situasi ini menciptakan sisi gelap berupa kelelahan mental maupun fisik yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat tanpa kenal lelah.
Kini, paradoks dari kerja keras berlebihan tersebut mulai memicu berbagai tantangan sosial yang serius di tengah masyarakat modern.
Tingkat kelahiran di Korea Selatan terus merosot tajam akibat tingginya biaya hidup serta kelelahan mental yang melanda generasi muda.
Banyak anak muda yang mulai mempertanyakan makna kesuksesan tradisional dan mulai menuntut adanya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan atau work-life balance.
Perubahan sudut pandang ini menjadi tanda bahwa masyarakat mulai jenuh dengan standar hidup yang terlalu menekan dan menuntut segalanya secara berlebihan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari