RADARTUBAN - Gyaru menjadi salah satu subkultur ikonik Jepang yang lahir dari keberanian generasi muda, khususnya perempuan, untuk mengekspresikan diri di tengah kuatnya standar kecantikan dan norma sosial konvensional.
Berkembang di kawasan mode seperti Shibuya dan Harajuku, Gyaru tidak sekadar menghadirkan gaya fesyen yang mencolok.
Subkultur ini juga menjadi ruang bagi anak muda untuk membangun identitas, tampil percaya diri, dan tidak sepenuhnya terikat pada ekspektasi sosial.
Baca Juga: Di Balik Gemerlap Tokyo! Ini Sisi Kelam Toyoko Kids, Remaja Jepang yang Pilih Hidup Jalanan
Istilah Gyaru berasal dari pelafalan bahasa Jepang terhadap kata gal dalam bahasa Inggris.
Popularitasnya meningkat pesat pada era 1990-an dan kemudian melahirkan berbagai gaya dengan karakteristik masing-masing.
Gyaru Tampil Berbeda dari Standar Kecantikan Jepang
Secara penampilan, Gyaru hadir dengan konsep yang bertolak belakang dari gambaran perempuan ideal dalam budaya Jepang tradisional.
Jika standar konvensional cenderung mengedepankan kulit putih, riasan natural, wajah muda, serta sikap lembut dan sopan, pengikut Gyaru justru tampil lebih berani.
Dikutip dari kanal YouTube Ray Bunny, kemunculan Gyaru berkaitan dengan respons terhadap tuntutan kecantikan dan perilaku perempuan Jepang pada masa tersebut.
"Pada era 1990-an, Gyaru dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap standar sosial dan kecantikan di Jepang. Saat itu, perempuan dianggap ideal jika tampil cantik secara alami, berkulit putih, terlihat muda, serta bersikap lembut dan sopan," ujar Ray Bunny.
Karena itu, Gyaru tidak hanya berkembang sebagai tren mode.
Bagi sebagian pengikutnya, gaya tersebut menjadi sarana untuk mengekspresikan diri tanpa harus mengikuti standar masyarakat secara mutlak.
Ciri penampilan Gyaru antara lain kulit yang dibuat lebih gelap melalui tanning, rambut pirang atau cokelat terang, serta penggunaan riasan mata dan wajah yang tebal.
Pilihan busananya pun cenderung berani dan mencolok.
Gaya hidupnya juga identik dengan aktivitas sosial anak muda perkotaan, seperti berkumpul bersama teman, berbelanja, karaoke hingga menikmati kehidupan malam.
Pengaruh Budaya Barat dan Lahirnya Beragam Gaya
Kemunculan Gyaru sendiri tidak terlepas dari pengaruh budaya populer Barat yang semakin kuat di Jepang sejak dekade 1970-an dan 1980-an.
Musik pop, punk, hip-hop, serta majalah mode internasional ikut memberikan referensi baru bagi generasi muda.
Salah satu figur yang turut memengaruhi popularitas gaya tersebut adalah penyanyi Jepang Namie Amuro.
Penampilannya pada era 1990-an banyak ditiru remaja perempuan, terutama siswi sekolah menengah atas.
Dari perkembangan tersebut, muncul berbagai turunan Gyaru. Salah satunya Kogal, yang mengadaptasi seragam siswi SMA Jepang dengan sentuhan lebih modis dan mencolok.
Kogal dikenal melalui penggunaan loose socks, rok yang dipendekkan, berbagai aksesori serta ketertarikan terhadap produk bermerek yang populer di kalangan remaja saat itu.
Ada pula Ganguro dan Yamanba yang dikenal dengan tampilan lebih ekstrem.
Pengikutnya biasanya menggunakan kulit hasil tanning yang sangat gelap, riasan putih mencolok di sekitar mata dan bibir, serta rambut berwarna terang.
Sementara itu, Hime Gyaru mengusung konsep seperti putri kerajaan melalui dominasi warna merah muda, renda, pita dan gaya rambut besar.
Adapun Agejo dan Tsuyome lebih menonjolkan kesan dewasa, glamor dan elegan melalui riasan tajam serta busana berani.
Meski memiliki ciri visual yang berbeda, berbagai aliran tersebut memiliki benang merah berupa kebebasan berekspresi dan keberanian menunjukkan identitas diri.
Gyaru Bangkit di Era Media Sosial
Ray Bunny menegaskan, Gyaru pada dasarnya bukan hanya persoalan pakaian atau merek yang dikenakan.
"Gyaru adalah tentang pola pikir, yaitu keberanian untuk mengekspresikan diri sebebas mungkin dan menjadi diri sendiri dengan percaya diri, tanpa takut pada penilaian orang lain," tegasnya.
Menurut Ray Bunny, prinsip tersebut menjadi salah satu alasan Gyaru masih memiliki penggemar hingga sekarang.
Penampilan memang menjadi identitas yang paling mudah dikenali, tetapi gagasan mengenai kebebasan individu menjadi bagian penting dari subkultur tersebut.
Popularitas Gyaru sempat menurun pada pertengahan dekade 2010-an. Namun, media sosial kemudian membuka ruang baru bagi kebangkitan subkultur tersebut.
TikTok, Instagram dan Xiaohongshu atau RedNote memungkinkan komunitas Gyaru membagikan inspirasi fesyen dan gaya hidup kepada audiens yang lebih luas.
Perkembangan itu kemudian melahirkan fenomena yang kerap disebut New Age Gyaru.
Komunitas Gyaru kini juga tidak terbatas di Jepang. Penggemarnya berkembang di berbagai negara dan dikenal sebagai Gaijin Gyaru, yakni komunitas penggemar Gyaru dari luar Jepang.
Gaya Gyaru modern pun semakin fleksibel.
Penggunaan pakaian thrifting, fesyen dengan harga terjangkau hingga kreasi busana sendiri menjadi bagian dari cara pengikutnya mempertahankan identitas subkultur tanpa harus terpaku pada merek tertentu.
Lebih dari tiga dekade sejak berkembang pada era 1990-an, Gyaru tetap menjadi bagian penting dari sejarah subkultur anak muda Jepang.
Dari gaya yang semula tampil sebagai kontras terhadap standar kecantikan konvensional, Gyaru berkembang menjadi simbol ekspresi diri dan keberanian merayakan keunikan individu. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari