Menjalin Hubungan dengan Narsistik Bisa Membentuk Siklus, Kenali Tahap Idealize hingga Discard

Salsa Mardhotun Nafisah • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 14:12 WIB
Siklus hubungan narsistik membuat korban meragukan realita dan sulit keluar. (Radar Tuban/ AI)
Siklus hubungan narsistik membuat korban meragukan realita dan sulit keluar. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN - Keluar dari hubungan dengan seseorang yang memiliki kecenderungan narsistik bisa menjadi proses yang tidak sederhana. 

Perlakuan yang berubah-ubah dalam hubungan dapat membuat seseorang tetap bertahan meski mulai merasakan dampak yang tidak sehat.

Topik tersebut dibahas Danang melalui kanal YouTube Satu Persen - Indonesian Life School ketika membahas cara menghadapi orang dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD).

Baca Juga: Apa Itu NPD? Kenali Ciri-Ciri, Penyebab, dan Dampak Buruk Gangguan Kepribadian Narsisistik

Danang menekankan bahwa NPD tidak dapat disamakan begitu saja dengan kebiasaan seseorang yang gemar berswafoto, aktif di media sosial, atau senang mendapatkan perhatian.

Dalam pembahasannya, Danang menjelaskan adanya pola hubungan yang dapat berlangsung dalam tiga tahap, yakni idealize, devalue, dan discard. 

Siklus tersebut dapat membuat seseorang kesulitan mengenali pola perlakuan yang dialaminya.

Berawal dari Perhatian Intens dan Love Bombing

Tahap pertama adalah idealize. Pada fase ini, seseorang dapat menerima perhatian yang sangat intens atau dikenal dengan istilah love bombing. 

Perhatian tersebut dapat membuat pasangan merasa sangat istimewa, dipahami, dan dianggap sebagai sosok penting.

Setelah fase tersebut, hubungan dapat memasuki tahap devalue. Intensitas perhatian mulai berubah dan digantikan oleh kritik atau perkataan yang membuat pasangan merasa bersalah.

Jika berlangsung berulang, kondisi tersebut dapat membuat seseorang mulai meragukan dirinya sendiri. 

Bahkan, dia bisa menganggap dirinya sebagai penyebab berbagai persoalan yang terjadi dalam hubungan.

Tahap selanjutnya adalah discard. Pada fase ini, hubungan dapat mulai ditinggalkan atau seseorang justru dibuat merasa bersalah ketika berusaha mengakhiri hubungan.

Menurut Danang, kesulitan meninggalkan pola hubungan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kuat atau lemahnya seseorang.

“Ini bukan perkara kuat atau lemah,” ujar Danang.

Perlakuan yang tidak konsisten juga dapat membuat seseorang kembali memiliki harapan ketika mendapatkan perlakuan baik.

Siklus antara perlakuan buruk dan perhatian tersebut dapat membuat proses untuk benar-benar mengakhiri hubungan menjadi semakin sulit.

Bangun Batasan dalam Komunikasi

Ketika komunikasi atau hubungan tidak dapat sepenuhnya diputus, Danang membahas Grey Rock Method. 

Metode tersebut dilakukan dengan memberikan respons singkat, datar, dan tidak emosional ketika berhadapan dengan perilaku yang memancing reaksi.

Sementara itu, Yellow Rock Method dapat dipertimbangkan dalam situasi ketika seseorang masih harus berkomunikasi atau berinteraksi, termasuk dalam lingkungan keluarga.

Selain membangun batasan dalam berinteraksi, Danang juga menyarankan radical acceptance serta melakukan dokumentasi terhadap berbagai kejadian.

Mencatat perkataan atau peristiwa yang terjadi dapat membantu seseorang kembali mengingat fakta ketika mulai meragukan ingatan atau penilaiannya sendiri.

“Dokumentasi itu bisa jadi anchor yang menyelamatkan lu ke realita,” jelasnya.

Dengan mengenali pola yang terjadi dan mencatat kejadian secara konkret, seseorang dapat memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai dinamika hubungan yang sedang dihadapi.

Langkah tersebut juga dapat membantu seseorang mempertahankan batasan dan tidak mudah kembali terjebak dalam pola hubungan yang sama. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
narsistik Love Bombing NPD hubungan