Bukan Cuma Estetika, Ini Alasan Psikologis Rumah Bisa Bikin Penghuninya Lebih Menenagkan

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 17:00 WIB
Penataan interior rumah yang nyaman, tenang, dan mendukung pemulihan energi penghuninya. (Dok. Magnific)
Penataan interior rumah yang nyaman, tenang, dan mendukung pemulihan energi penghuninya. (Dok. Magnific)

RADARTUBAN - Pernahkah Anda memasuki sebuah rumah yang sebenarnya tidak sesuai dengan selera pribadi, tetapi tetap terasa nyaman untuk ditempati? Perasaan tersebut ternyata bukan sekadar soal dekorasi yang indah atau furnitur yang mahal.

Menurut berbagai konsep dalam psikologi lingkungan, otak manusia memiliki cara tersendiri dalam menilai sebuah ruang.

Tanpa disadari, tata letak furnitur, suara di dalam ruangan, hingga material yang digunakan dapat memengaruhi rasa aman, tingkat stres, dan kenyamanan seseorang saat berada di rumah.

Dikutip dari kanal YouTube Nick Lewis, salah satu faktor terpenting yang memengaruhi kenyamanan ruang adalah rasa aman.

Baca Juga: Rumah Singgah Pasien Kabupaten Tuban di Surabaya: Mas Lindra Pastikan Fasilitas dan Pelayanan Rumah Singgah Layak, Nyaman, dan Humanis

Meski manusia modern tidak lagi hidup di alam liar, otak masih membawa mekanisme bertahan hidup yang telah berkembang selama ribuan tahun.

"Kita cenderung merasa paling nyaman di tempat yang memungkinkan kita melihat apa yang ada di depan, sekaligus memiliki perlindungan di belakang," jelas Nick Lewis saat membahas konsep prospect-refuge theory.

Teori tersebut menjelaskan bahwa manusia secara alami lebih rileks ketika dapat memantau lingkungan di sekitarnya tanpa merasa rentan terhadap ancaman dari arah belakang.

Pada masa lalu, posisi seperti ini membantu manusia bertahan hidup dari berbagai bahaya di alam.

Menurut Lewis, prinsip tersebut masih memengaruhi perilaku manusia hingga sekarang. Itulah sebabnya sebagian orang merasa sulit fokus ketika bekerja membelakangi pintu atau merasa tidak nyaman duduk di area yang ramai dilalui orang dari belakang.

Kondisi tersebut tidak selalu menimbulkan rasa takut secara sadar. Namun, otak tetap bekerja memantau area yang tidak terlihat sehingga memicu kegelisahan, sulit berkonsentrasi, atau keinginan untuk berpindah tempat tanpa alasan yang jelas.

Karena itu, Lewis menyarankan agar area yang paling sering digunakan, seperti meja kerja, sofa, atau tempat tidur, ditempatkan pada posisi yang memungkinkan penghuni melihat akses utama ruangan sambil tetap memiliki latar belakang yang terasa kokoh dan aman.

Selain tata letak, kenyamanan rumah juga dipengaruhi oleh kondisi akustik ruangan. Banyak hunian modern mengutamakan tampilan minimalis dengan dominasi lantai keras, dinding polos, kaca, dan furnitur berbahan logam.

Meski terlihat bersih dan modern, kombinasi tersebut dapat membuat suara memantul ke berbagai arah sehingga menciptakan gema yang tidak disadari. Akibatnya, otak harus bekerja lebih keras untuk menyaring berbagai suara kecil yang terus muncul di sekitar.

Fenomena ini berkaitan dengan proses yang dikenal sebagai sensory gating, yaitu kemampuan otak untuk menyaring suara latar belakang yang dianggap tidak berbahaya.

Ketika sebuah ruangan memiliki terlalu banyak permukaan keras, proses penyaringan tersebut menjadi lebih sulit dilakukan. Suara langkah kaki, gesekan kursi, hingga dentingan benda dapat terasa lebih mengganggu dibandingkan yang disadari penghuni rumah.

Baca Juga: Kritik Sound Horeg Makin Tajam, Soroti Kebisingan, Kerusakan Rumah, dan Iuran Warga

Untuk mengatasinya, Lewis menyarankan penggunaan elemen yang mampu menyerap suara seperti karpet, tirai berbahan tebal, kain bertekstur, atau dekorasi dinding yang tidak memantulkan suara secara berlebihan.

Menurutnya, ruangan yang lebih tenang dapat membantu sistem saraf merasa lebih aman dan rileks. Efeknya tidak hanya membuat rumah terasa nyaman, tetapi juga membantu mengurangi kelelahan mental setelah menjalani aktivitas seharian.

Faktor lain yang kerap diabaikan adalah penggunaan material alami di dalam rumah. Lewis menjelaskan bahwa otak manusia berevolusi di lingkungan alam yang dipenuhi pola-pola organik seperti serat kayu, batu, dedaunan, dan tekstur alami lainnya.

Karena itu, material yang memiliki variasi bentuk dan pola alami cenderung lebih mudah diterima oleh otak dibandingkan permukaan sintetis yang terlalu seragam.

Konsep ini berkaitan dengan attention restoration theory, yaitu teori yang menjelaskan bahwa lingkungan tertentu dapat membantu memulihkan kapasitas perhatian yang terkuras akibat aktivitas sehari-hari.

"Ketika kita melihat pola-pola alami seperti serat kayu, batu, atau tekstur organik lainnya, otak dapat beristirahat tanpa kehilangan fokus sepenuhnya," jelas Lewis.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kenyamanan rumah tidak selalu bergantung pada barang-barang mahal. Kehadiran elemen sederhana seperti meja kayu, tirai linen, tanaman, atau keramik dengan tekstur alami dapat memberikan efek psikologis yang cukup signifikan.

Selain itu, Lewis juga menyoroti kebiasaan banyak orang yang mempertahankan furnitur atau dekorasi yang sebenarnya sudah tidak disukai. Alasannya beragam, mulai dari harga yang mahal hingga nilai sentimental yang melekat pada barang tersebut.

Menurut psikologi, kondisi ini berkaitan dengan endowment effect dan sunk cost fallacy, yaitu kecenderungan manusia untuk menilai barang miliknya lebih berharga serta kesulitan melepaskan sesuatu yang pernah menghabiskan biaya atau emosi besar.

Akibatnya, seseorang terus mempertahankan furnitur yang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan atau selera mereka. Tanpa disadari, barang tersebut justru menjadi sumber gangguan visual yang membuat ruangan terasa kurang nyaman.

Lewis menyarankan cara sederhana untuk mengujinya. Bayangkan furnitur tersebut berada di toko barang bekas atau marketplace.

Jika dalam kondisi sekarang seseorang tidak tertarik membelinya kembali, kemungkinan besar barang tersebut sudah tidak memberikan nilai positif bagi ruang yang ditempatinya.

Pada akhirnya, rumah yang nyaman bukan hanya soal mengikuti tren desain atau membeli furnitur terbaru. Faktor-faktor psikologis yang sering luput diperhatikan justru memiliki peran besar dalam membentuk pengalaman seseorang saat berada di dalam ruang.

Mulai dari penempatan furnitur yang memberi rasa aman, pengelolaan suara yang lebih baik, penggunaan material alami, hingga keberanian melepaskan barang yang tidak lagi dibutuhkan, seluruhnya dapat membantu menciptakan hunian yang lebih menenangkan tanpa harus melakukan renovasi besar-besaran. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
psikologi lingkungan rumah