Bukan Suplemen Biasa, Ini Risiko Steroid Anabolik bagi Tubuh

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 18:05 WIB
Perbedaan signifikan pada massa otot dan bentuk fisik pengguna steroid dibanding dengan pembentukan otot natural. (Radar Tuban/ AI)
Perbedaan signifikan pada massa otot dan bentuk fisik pengguna steroid dibanding dengan pembentukan otot natural. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN - Steroid anabolik bukan suplemen olahraga biasa seperti protein whey atau kreatin. 

Zat yang memiliki efek menyerupai hormon testosteron tersebut dapat memengaruhi sistem hormonal tubuh dan menimbulkan berbagai risiko kesehatan, terutama jika digunakan tanpa pengawasan medis.

Steroid anabolik umumnya digunakan untuk mempercepat peningkatan massa dan kekuatan otot. 

Baca Juga: Bukan Olahraga, dr. Tirta sebut Nutrisi Seimbang Jadi Fondasi Utama Kesehatan Tubuh

Zat ini bekerja dengan meniru efek testosteron sehingga dapat meningkatkan sintesis protein dan mendukung pertumbuhan jaringan otot.

Efek tersebut membuat sebagian orang di dunia olahraga dan kebugaran tertarik menggunakannya untuk memperoleh hasil latihan dalam waktu lebih singkat. 

Namun, peningkatan massa otot yang cepat dapat disertai konsekuensi terhadap keseimbangan hormon dan fungsi sejumlah organ tubuh.

Steroid Berbeda dengan Suplemen Olahraga

Berdasarkan paparan edukasi kesehatan dari kanal YouTube Manusia Barbel, steroid anabolik tidak tepat diposisikan sebagai suplemen untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari.

"Steroid bukan sekadar suplemen buat pembesar otot, ia adalah bentuk manipulasi biologis di mana tubuh manusia yang seharusnya beradaptasi secara alami dipaksa tumbuh lebih cepat dari batas aman,” bunyi narasi dalam tayangan video tersebut.

“Steroid meniru hormon testosteron alami dan menipu sistem tubuh, padahal di balik itu sistem alami tubuh mulai dimatikan secara perlahan," lanjutnya.

Salah satu dampak yang dapat terjadi adalah terganggunya produksi hormon alami. Ketika hormon dari luar masuk secara terus-menerus, produksi testosteron tubuh dapat ditekan. 

Akibatnya, keseimbangan hormonal dapat terganggu, termasuk setelah penggunaan steroid dihentikan.

Dampaknya juga tidak hanya terlihat dari perubahan massa otot. 

Penggunaan steroid anabolik dapat berkaitan dengan munculnya jerawat, kerontokan rambut, pembesaran jaringan payudara pada pria atau gynecomastia, hingga penyusutan testis.

Risiko Steroid Bisa Menjangkau Berbagai Organ

Dalam penggunaan jangka panjang tanpa pengawasan medis, steroid anabolik juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang lebih serius.

Dampaknya dapat berkaitan dengan fungsi hati, tekanan darah, kadar kolesterol, sistem kardiovaskular, hingga kesehatan ginjal. 

Tingkat risikonya dapat berbeda-beda, tergantung jenis zat yang digunakan, dosis, lama penggunaan, kombinasi dengan obat atau zat lain, serta kondisi kesehatan pengguna.

Perubahan hormonal juga dapat memengaruhi kondisi psikologis pada sebagian pengguna. 

Beberapa efek yang dapat muncul antara lain perubahan suasana hati, kecemasan, depresi, hingga peningkatan agresivitas.

Istilah roid rage kerap digunakan untuk menggambarkan episode kemarahan atau perilaku agresif yang dikaitkan dengan penggunaan steroid. 

Namun, respons setiap orang terhadap zat tersebut dapat berbeda.

Karena itu, mengejar pertumbuhan otot secara cepat dengan steroid memiliki risiko yang berbeda dibandingkan membangun massa otot melalui latihan teratur, asupan nutrisi seimbang, dan pemulihan yang cukup.

Bagi siapa pun yang mempertimbangkan penggunaan steroid untuk kebutuhan fisik maupun olahraga, konsultasi dengan tenaga medis penting dilakukan untuk memahami manfaat, risiko, serta kondisi kesehatan yang dapat meningkatkan potensi komplikasi. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
steroid anabolik massa otot gangguan kesehatan hormon