RADARTUBAN - Kebiasaan endless scroll membuat seseorang terus menggulir konten di media sosial tanpa menyadari kapan harus berhenti.
Pola penggunaan tersebut dapat berdampak pada kemampuan fokus, pengelolaan waktu, hingga kondisi mental.
Pembahasan mengenai kebiasaan tersebut disampaikan dalam podcast Wellspring Conversations bersama dr. Sandy, dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, dan dr. Dimas, Sp.KJ.
Baca Juga: Doom Scrolling Ternyata Bisa Merusak Sistem Kerja Otak, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Mereka membahas berbagai dampak media sosial, mulai dari doomscrolling, perubahan fokus, hingga kaitannya dengan kesehatan mental.
Media sosial kini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Selain digunakan untuk mencari hiburan, platform digital juga dimanfaatkan untuk memperoleh informasi dan mengikuti berbagai tren yang sedang berlangsung.
Namun, penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dapat memengaruhi cara seseorang mengatur waktu, mempertahankan konsentrasi, serta berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.
Penyebab Pengguna Terus Menggulir
dr. Sandy menjelaskan, dampak media sosial tidak bisa dinilai hanya berdasarkan platform yang digunakan.
Menurutnya, pengaruhnya sangat bergantung pada pola dan cara seseorang dalam menggunakannya.
"Yang menentukan apakah sesuatu itu racun atau obat adalah dosisnya," ujar dr. Sandy.
Penggunaan media sosial secara aktif, seperti membuat unggahan, membalas pesan, dan berinteraksi dengan orang lain, memiliki dampak yang berbeda dengan penggunaan secara pasif.
Pengguna yang hanya menggulir layar tanpa tujuan justru berisiko mengalami penurunan suasana hati.
Kondisi tersebut dapat semakin kuat ketika pengguna berhadapan dengan fitur endless scroll.
Fitur ini membuat konten terus bermunculan tanpa memberikan batas akhir yang jelas.
"Bahan aktif dari internet bukan platform atau logonya, melainkan fitur-fiturnya di mana seseorang bisa melakukan endless scroll berjam-jam tanpa habis," kata dr. Sandy.
Rasa penasaran terhadap konten berikutnya juga dapat membuat seseorang terus menggulir layar.
Setelah menemukan konten yang menarik, muncul dorongan untuk melihat konten selanjutnya dengan harapan menemukan sesuatu yang lebih menarik.
Kebiasaan mengonsumsi short-form content juga menjadi perhatian.
Terlalu terbiasa menerima informasi dalam durasi singkat dapat membuat pengguna merasa kesulitan mempertahankan konsentrasi dalam waktu yang lebih lama.
"Mungkin enggak sih banyak orang dewasa merasa mereka ADHD bukan karena kriteria klinis murni, tapi karena kita begitu cepat konsumsi informasi short-form content sehingga seolah-olah attention span kita makin sedikit?" ujarnya.
Terapkan Batasan Tegas
Di tengah kebiasaan tersebut, pengguna tetap dapat membuat batasan dalam menggunakan media sosial.
Salah satunya dengan menerapkan prinsip active use, yakni membuka media sosial berdasarkan tujuan tertentu dan menutupnya setelah tujuan tersebut selesai.
Dr. Jiemi turut memberikan contoh sederhana dalam menerapkan pola tersebut.
"Habis posting, balas komen dalam 1 jam pertama, lalu tutup. We don't do doomscrolling because we know it is exhausting."
Selain membatasi durasi penggunaan, pengguna juga dapat mematikan notifikasi media sosial, menetapkan batas waktu aplikasi, membuat zona bebas ponsel, hingga menggunakan alarm sebagai pengingat untuk berhenti. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari