RADARTUBAN - Kisah Malin Kundang selama ini dikenal sebagai cerita tentang anak yang durhaka kepada ibunya.
Namun, di balik legenda tersebut terdapat pembahasan mengenai hubungan orang tua dan anak, termasuk ketika orang tua memperlakukan anak sebagai aset untuk memenuhi kepentingan mereka.
Berdasarkan ulasan kanal YouTube Fellexandro Ruby saat membedah buku The Psychology of Emotions karya David J. Lieberman, hubungan orang tua dan anak dapat dipengaruhi oleh pola emosi serta cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Baca Juga: Orang Tua Wajib Tahu, Begini Cara Buat Aturan Tegas Tanpa Melukai Mental Anak
Patung Malin Kundang yang berada di Pantai Air Manis, Padang, bukanlah bagian dari kejadian nyata dalam legenda tersebut.
Patung itu merupakan karya manusia yang dibuat Dasril Bairas Bin Ibinzani Utsman pada 1980-an.
Legenda Malin Kundang sendiri merupakan mitologi atau cerita rakyat yang berkembang sebagai narasi untuk mengajarkan anak agar menghormati orang tua dan tidak bersikap durhaka.
Di balik cerita tersebut, masyarakat kemudian mengenal kepercayaan bahwa anak yang durhaka akan mendapatkan nasib tragis seperti Malin Kundang.
Namun, muncul pertanyaan lain, apakah perilaku durhaka hanya dapat dilakukan oleh anak kepada orang tua?
Pertanyaan tersebut berkaitan dengan dinamika hubungan keluarga dan pola asuh yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka.
Ketika Anak Dianggap sebagai Aset
Salah satu fenomena yang menjadi sorotan adalah ketika orang tua memandang anak hanya sebagai aset.
Anak dianggap seperti portofolio investasi yang diharapkan memberikan return tinggi sehingga dalam kondisi tertentu dapat dieksploitasi untuk memenuhi kepentingan keluarga.
Tidak sedikit orang tua yang memperlakukan anak seperti mesin pencetak uang atau ATM berjalan.
Pola semacam ini disebut dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong munculnya sandwich generation, ketika generasi muda harus memenuhi kebutuhan finansial dan perawatan orang tua lanjut usia sekaligus menghadapi kebutuhan hidupnya sendiri.
Kondisi tersebut dapat membuat generasi sandwich menghadapi beban mental dan finansial.
Terlebih, sebagian tuntutan tersebut berasal dari orang tua yang tumbuh dengan pola pikir bertahan hidup (survival) yang dianggap kaku.
Pola pikir tersebut juga kerap dikaitkan dengan prinsip “banyak anak banyak rezeki”. Konsep tersebut kemudian dinilai perlu dipertimbangkan kembali ketika diterapkan dalam konteks perencanaan finansial keluarga pada masa sekarang.
Dampak Emosional pada Anak
Selain memberikan tekanan ekonomi, pola asuh seperti itu juga dapat memunculkan persoalan emosional yang berdampak panjang terhadap kondisi psikologis anak.
Dalam pembahasan Fellexandro Ruby, amarah atau sikap otoriter orang tua terhadap anak dapat berkaitan dengan emosi sekunder (secondary emotion).
Di balik sikap menuntut atau memperlakukan anak secara eksploitatif, menurut pembahasan tersebut, dapat terdapat rasa takut, kekhawatiran mengenai masa depan, hingga persoalan nilai diri (self-worth) orang tua yang belum terselesaikan.
"Secara psikologis, luapan amarah dan tuntutan berlebih dari orang tua kerap kali hadir sebagai ilusi kontrol untuk menutupi rasa takut dan ketidakberdayaan mereka sendiri. Penting bagi kita untuk memahami akar emosi tersebut agar dapat memutus rantai trauma antar-generasi," ujarnya.
Pendekatan psikologi dalam pembahasan tersebut menekankan pentingnya penerimaan (acceptance) serta keberanian generasi muda untuk mengevaluasi dan memperbaiki keputusan dalam hidup.
Memahami bahwa perlakuan buruk pada masa lalu dapat berkaitan dengan ketidakmampuan orang tua dalam mengelola emosi, disebut menjadi salah satu langkah untuk menghentikan pola sandwich generation dan membangun hubungan keluarga yang lebih sehat pada masa mendatang. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari