Ternyata Kata OK Berawal dari Lelucon, Begini Sejarahnya hingga Menjadi Istilah yang Mendunia

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 17:53 WIB
Ilustrasi gestur OK yang umum digunakan untuk menyatakan persetujuan. (pixabay.com/Robin Higgins)
Ilustrasi gestur OK yang umum digunakan untuk menyatakan persetujuan. (pixabay.com/Robin Higgins)

RADARTUBAN — Kata "OK" digunakan miliaran kali setiap hari di berbagai belahan dunia.

Dua huruf sederhana ini muncul dalam percakapan sehari-hari, pesan singkat, dokumen pekerjaan, hingga aplikasi digital. 

Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa istilah yang kini dipahami hampir di seluruh dunia tersebut ternyata berawal dari sebuah lelucon bahasa di Amerika Serikat pada abad ke-19.

Sejarah "OK" umumnya ditelusuri ke Boston, Amerika Serikat, pada akhir dekade 1830-an. Saat itu, kalangan muda dan intelektual memiliki kebiasaan membuat singkatan dari kata-kata yang sengaja salah dieja sebagai bentuk humor.

Salah satu yang paling populer adalah "oll korrect", versi plesetan dari frasa "all correct". Singkatan dari ungkapan itulah yang kemudian ditulis menjadi "OK".

Baca Juga: Tas Hermès Birkin dan Kelly, Jadi Simbol Status hingga Barang Bukti Korupsi

Dikutip dari kanal YouTube Vox, istilah tersebut pertama kali tercatat dalam surat kabar Boston Morning Post pada 23 Maret 1839 sebelum perlahan menyebar ke berbagai wilayah Amerika Serikat.

"Kata OK sebenarnya berawal dari tren singkatan yang sengaja salah eja pada tahun 1830-an. Kalangan intelektual muda di Boston saat itu gemar membuat pesan-pesan berkode dengan ejaan yang sengaja dibuat keliru sebagai lelucon," ujar narator.

Popularitasnya semakin meningkat ketika kata "OK" digunakan dalam kampanye Pemilihan Presiden Amerika Serikat pada 1840.

Presiden Martin Van Buren, yang berasal dari Kinderhook, New York, memanfaatkan julukan "Old Kinderhook" sebagai bagian dari strategi kampanyenya.

Para pendukungnya kemudian membentuk kelompok bernama "OK Clubs", yang membuat istilah tersebut semakin dikenal masyarakat luas.

Meski Van Buren gagal memenangkan pemilu, penggunaan "OK" justru terus bertahan dan berkembang di luar dunia politik.

Perkembangan teknologi telegraf pada pertengahan abad ke-19 menjadi salah satu faktor penting yang membantu penyebaran kata tersebut. Dalam komunikasi jarak jauh berbasis kode Morse, dua huruf itu dinilai praktis, mudah dikirim, dan tidak mudah tertukar dengan pesan lain.

Menurut penjelasan dalam video tersebut, kondisi itu membuat "OK" cepat diadopsi sebagai tanda bahwa sebuah pesan telah diterima.

"Inilah momen ketika OK mulai bersinar. Dua huruf ini mudah dikirim melalui telegraf dan sangat kecil kemungkinannya tertukar dengan pesan lain. Karena itu, OK kemudian digunakan sebagai tanda bahwa sebuah pesan telah diterima," jelas narator.

Seiring waktu, fungsi "OK" berkembang jauh melampaui makna awalnya.

Baca Juga: Mengenal Gyaru, Subkultur Jepang yang Jadi Simbol Kebebasan Berekspresi

Kata ini dapat digunakan untuk menyatakan persetujuan, penerimaan informasi, izin, hingga penanda bahwa suatu kondisi berjalan dengan baik.

Keberhasilannya bertahan selama hampir dua abad juga dinilai tidak lepas dari sifatnya yang sederhana dan netral. Kata tersebut dapat digunakan dalam berbagai situasi tanpa membawa muatan emosi yang kuat.

"Alan Metcalf, yang menulis kajian sejarah paling lengkap tentang OK, menjelaskan bahwa kata ini berfungsi sebagai bentuk penerimaan tanpa penilaian. OK tidak menyampaikan emosi tertentu, tetapi hanya mengakui dan menerima informasi yang diberikan," terang narator.

Kini, "OK" telah menjadi salah satu kata yang paling dikenal di dunia.

Berawal dari lelucon ejaan di sebuah kota di Amerika Serikat, istilah tersebut berhasil melintasi batas bahasa, budaya, dan teknologi hingga tetap digunakan hampir dua abad setelah pertama kali muncul di media cetak. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
OK lelucon Amerika Serikat