Marah Bukan Emosi Utama, Ini Perasaan yang Sering Tersembunyi di Baliknya

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 13:57 WIB
Ilustrasi konsep psikologi mengenai emosi amarah yang lahir dari rasa takut dan kecemasan. (Pinterest)
Ilustrasi konsep psikologi mengenai emosi amarah yang lahir dari rasa takut dan kecemasan. (Pinterest)

RADARTUBAN - Rasa marah sering muncul ketika seseorang menghadapi tekanan, kekecewaan, frustrasi, atau konflik. Namun, amarah tidak selalu menjadi emosi pertama yang dirasakan.

Dalam ulasan kanal YouTube Fellexandro Ruby terhadap buku The Psychology of Emotions karya psikoterapis David J. Lieberman, dijelaskan bahwa kemarahan dapat menjadi emosi sekunder yang muncul sebagai respons terhadap perasaan lain. 

Baca Juga: Uang vs Perasaan: Mana yang Lebih Menjamin Kebahagiaan? Faktanya Mengejutkan

Seperti ketakutan, kekecewaan, rasa ditolak, frustrasi, hingga ancaman terhadap nilai diri (self-worth).

Karena itu, kemarahan kerap diibaratkan seperti puncak gunung es. 

Ledakan amarah hanya bagian yang terlihat, sementara di baliknya terdapat emosi lain yang belum terselesaikan.

Amarah dan Ilusi Kendali

Pembahasan buku tersebut menyebut kemarahan berkaitan dengan respons fisiologis tubuh yang melibatkan hormon seperti adrenalin dan kortisol. 

Respons fisiologis ini dapat membuat seseorang merasa lebih kuat dan seolah memiliki kendali atas keadaan.

Padahal, kemarahan tidak selalu menyelesaikan sumber persoalan. 

Ketika rasa takut, sedih, kecewa, atau tidak aman tidak dihadapi secara langsung, amarah dapat menjadi bentuk pertahanan diri.

"Secara biologis, kemarahan memberikan ilusi kekuatan dan kontrol mendadak melampaui kondisi nyata. Namun jika tidak dikendalikan, pola emosional tersebut justru mengikis kualitas pengambilan keputusan dalam kehidupan," dikutip dari kanal YouTube Fellexandro Ruby.

Karena itu, memahami penyebab di balik kemarahan penting dalam mengelola emosi. 

Seseorang perlu melihat bukan hanya pemicu amarah, tetapi juga perasaan yang muncul sebelum kemarahan tersebut.

Melatih Otak agar Tak Mudah Meledak

Lieberman menawarkan sejumlah pendekatan untuk mengurangi kecenderungan mudah terpancing emosi, salah satunya dengan mengubah cara pandang terhadap pemicu kemarahan.

Seseorang dapat bertanya apakah persoalan yang membuatnya marah masih akan berdampak besar dalam beberapa pekan atau bulan mendatang. 

Pertanyaan ini dapat memberikan jarak sebelum bereaksi secara impulsif.

Penguatan nilai diri juga penting. Membiasakan diri mengambil keputusan sesuai nilai dan tujuan pribadi dapat membantu mengurangi rasa tidak aman serta kebutuhan mempertahankan ego.

Ulasan tersebut juga menyoroti anggapan bahwa amarah harus selalu dilampiaskan agar lega. 

Faktanya, kebiasaan meluapkan amarah berulang kali dapat memperkuat pola respons tersebut.

Dalam konsep neuroplasticity, otak mampu membentuk dan memperkuat koneksi saraf berdasarkan kebiasaan. 

Karena itu, berhenti sejenak, menahan respons impulsif, dan memilih tindakan yang lebih tenang dapat membantu membentuk pola emosional yang berbeda.

Dengan memahami emosi di balik kemarahan dan melatih respons yang lebih terkontrol, seseorang dapat menghadapi tekanan serta konflik sehari-hari dengan cara yang lebih sehat. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
amarah respons fisiologis perasaan emosi