RADARTUBAN - Gelar pendidikan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang. Kompetensi, kedisiplinan, kemampuan berpikir, serta ruang bagi anak menentukan pilihan juga penting dalam proses pendidikan.
Pandangan tersebut disampaikan Pandji Pragiwaksono saat berbincang dengan Ustadz Felix Siauw dalam podcast Ngobrol Pendidikan Bareng Pandji Pragiwaksono di kanal YouTube YNTV.
Keduanya membahas pendidikan dari sisi sekolah, perguruan tinggi, hingga pengalaman orang tua mendampingi anak menghadapi perubahan zaman.
Baca Juga: Orang Tua Wajib Tahu, Begini Cara Buat Aturan Tegas Tanpa Melukai Mental Anak
Menurut Pandji, pendidikan formal tetap penting. Perguruan tinggi tidak hanya memberikan pengetahuan sesuai bidang, tetapi juga melatih kedisiplinan dan membuka kesempatan membangun jaringan.
Namun, persoalan muncul ketika gelar ditempatkan lebih tinggi daripada kemampuan.
"Kita tinggal di Indonesia, bangsa yang sangat peduli gelar karena kita tumbuh lewat budaya kerajaan. Di kerajaan gelar itu krusial. Walaupun ujung-ujungnya kompetensilah yang seharusnya kita angkat," kata Pandji.
Orang Tua Perlu Memberi Ruang Anak Bertumbuh
Pandji juga membahas cara orang tua menyikapi perubahan minat anak. Dia menceritakan putranya, Dipo, yang pernah ingin menjadi "Ninja", sebelum tertarik pada world building dan speculative biology.
Menurutnya, orang tua tidak seharusnya langsung menutup minat anak hanya karena bidang yang disukai terdengar asing.
Orang tua perlu memperluas wawasan agar dapat memahami dan mendukung kemungkinan yang ingin dijalani anak.
Pandji menerapkan prinsip leadership by question, yakni membimbing anak melalui pertanyaan agar mereka dapat mempertimbangkan pilihan sendiri.
"Ada prinsip namanya leadership by question. Mengarahkan orang lewat pertanyaan agar dia sendiri yang mengarahkan pemikirannya ke hal yang baik," ujarnya.
Prinsip itu diterapkan ketika anaknya ingin berhenti sekolah dan bekerja sebagai dishwasher agar memiliki lebih banyak waktu menggambar.
Alih-alih melarang, Pandji meminta anaknya mencoba simulasi pekerjaan di rumah sehingga memahami sendiri konsekuensinya.
Pendidikan Juga tentang Komunikasi dan Konsekuensi
Pandji menilai anak perlu memiliki ruang untuk tumbuh dan berubah. Pilihan pada satu fase kehidupan tidak harus menentukan seluruh masa depan.
"Ruang pertumbuhan orang itu tidak lekang oleh waktu. Dia akan terus bertumbuh dan berubah. Selama tetap diarahkan dan tidak berhenti pengarahannya, dia punya ruang untuk menjadi benar," tuturnya.
Ruang tersebut dibangun melalui komunikasi keluarga.
Pandji memanfaatkan waktu makan dan kegiatan bersama untuk membicarakan berbagai persoalan agar anak terbiasa terbuka tanpa takut.
Dalam mendidik, dia lebih memilih menjelaskan konsekuensi daripada memberikan hukuman langsung. Anak diajak memahami hubungan antara keputusan dan dampaknya.
Bagi Pandji, keberhasilan parenting orang tua juga mencakup kemampuan membantu anak mencapai hal yang mereka inginkan.
"Sesukses-suksesnya Pandji, tetap dianggap gagal kalau anak-anaknya tidak bisa dibantu untuk mencapai apa yang mereka inginkan," ujarnya.
Pandangan tersebut menunjukkan pendidikan tidak berhenti pada gelar.
Kompetensi, kedisiplinan, kemampuan mengambil keputusan, komunikasi, dan kesempatan menemukan jalan sendiri juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari