RADARTUBAN - Jarang membagikan aktivitas di media sosial tidak selalu berarti seseorang antisosial, tidak percaya diri, atau tidak memiliki kehidupan yang menarik.
Bagi sebagian orang, keputusan untuk tidak banyak posting justru berkaitan dengan privasi, ketenangan, dan keinginan menikmati kehidupan secara langsung.
Hal tersebut dibahas dalam video di kanal YouTube One More.
Dalam tayangan tersebut, narator menguraikan sejumlah alasan yang dapat membuat seseorang memilih tidak terlalu sering membagikan kehidupan pribadinya di dunia maya.
Baca Juga: Seragamnya Gaya Hidup Manusia Modern Akibat Perangkap Peniruan Massal di Media Sosial
Salah satunya adalah tidak menjadikan validasi eksternal sebagai ukuran diri.
Pencapaian atau kebahagiaan tidak selalu harus mendapatkan likes, komentar, maupun pengakuan dari orang lain.
“Penghargaan terhadap diri sendiri tidak harus selalu datang dari luar. Karena pada akhirnya, ketika seseorang sudah cukup yakin dengan apa yang sedang dia jalani, dia tidak perlu terus-menerus membuktikan nilainya kepada orang lain," ungkap narator.
Memilih Menikmati Momen daripada Perhatian
Alasan lainnya adalah keinginan mendapatkan ketenangan daripada perhatian.
Ketika sedang berlibur atau berkumpul bersama orang-orang terdekat, sebagian orang memilih menikmati momen secara langsung daripada memikirkan foto, membuat caption, atau menunggu respons pengguna lain.
“Semakin sering kita memikirkan bagaimana sebuah momen terlihat dari luar, semakin mudah kita lupa untuk benar-benar merasakannya dari dalam,” jelas narator.
Jarang aktif di media sosial juga bukan berarti seseorang tidak melakukan apa-apa.
Sebagian orang justru sedang menghabiskan waktu dan energi untuk belajar, bekerja, membangun usaha, atau memperbaiki diri tanpa merasa harus membagikan setiap prosesnya kepada publik.
“Dia tidak sibuk memberitahu dunia bahwa dirinya sedang berkembang. Dia sedang benar-benar berkembang,” ujar narator.
Selain itu, seseorang dapat memilih jalur hidup berdasarkan keinginan dan nilai pribadinya tanpa harus mengikuti tren maupun ekspektasi lingkungan.
Media sosial ditempatkan sebatas sebagai sarana, bukan standar untuk menentukan nilai kehidupan.
Ketika Media Sosial Mulai Melelahkan
Faktor lain yang dapat membuat seseorang mengurangi aktivitas di media sosial adalah rasa lelah.
Paparan informasi secara terus-menerus, termasuk melihat kehidupan dan pencapaian orang lain, dapat membuat sebagian orang memilih mengambil jarak dari dunia maya.
Mengurangi aktivitas di media sosial bagi sebagian orang dapat menjadi cara untuk menjaga ketenangan dan memberikan ruang bagi diri sendiri untuk lebih fokus pada kehidupan nyata.
Pada akhirnya, aktif maupun jarang muncul di media sosial merupakan pilihan personal.
Setiap orang memiliki batas privasi serta alasan yang berbeda dalam menentukan hal-hal yang ingin dibagikan kepada publik.
Karena itu, frekuensi seseorang mengunggah sesuatu di media sosial tidak selalu dapat menjadi gambaran mengenai kehidupan sosial, kebahagiaan, maupun kepercayaan dirinya. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari