Kenapa Bayi Tidak Langsung Takut Ular? Begini Cara Rasa Takut Terbentuk

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 10:54 WIB
Seorang anak mengamati ular dalam eksperimen yang meneliti bagaimana rasa takut terbentuk sejak usia dini. (Tangkapan layar Youtube ABCScience)
Seorang anak mengamati ular dalam eksperimen yang meneliti bagaimana rasa takut terbentuk sejak usia dini. (Tangkapan layar Youtube ABCScience)

RADARTUBAN — Rasa takut terhadap ular sering dianggap sebagai naluri alami manusia untuk menghindari bahaya.

Namun, berbagai penelitian psikologi perkembangan menunjukkan bahwa bayi tidak terlahir dengan ketakutan yang sama seperti orang dewasa. 

Saat pertama kali berhadapan dengan ular, banyak bayi justru menunjukkan rasa penasaran dan ketertarikan terhadap hewan tersebut.

Temuan ini terlihat dalam sejumlah eksperimen yang mempertemukan bayi dan anak usia dini dengan ular non-bisa yang telah dijinakkan. 

Alih-alih menangis, menjauh, atau menunjukkan kepanikan, sebagian besar anak justru memperhatikan gerakan ular atau tetap melanjutkan aktivitas bermain mereka seperti biasa.

Fakta tersebut menantang anggapan bahwa manusia sejak lahir sudah memiliki ketakutan terhadap ular.

Para ahli menjelaskan bahwa sebagian besar rasa takut berkembang melalui proses pembelajaran dan pengalaman sosial selama masa pertumbuhan.

Baca Juga: Dari Ambil Cincin Hingga Evakuasi Ular, Damkar Tuban Jadi Superhero Serba Bisa

Dalam psikologi perkembangan, bayi diketahui memiliki respons bawaan terhadap beberapa rangsangan tertentu, seperti suara keras yang tiba-tiba. 

Sementara itu, banyak ketakutan lain, termasuk terhadap ular dan hewan berbahaya lainnya, terbentuk secara bertahap melalui interaksi dengan lingkungan sekitar.

Bayi ternyata mampu membaca sinyal emosional dari orang tua atau pengasuh sejak usia sangat dini. Saat menemukan objek yang asing, mereka sering mencari petunjuk melalui ekspresi wajah orang dewasa di sekitarnya untuk menentukan apakah situasi tersebut aman atau berbahaya.

"Bahkan ketika masih sangat kecil, bayi sangat pandai memperhatikan mata dan ekspresi emosional pengasuh mereka. Ketika sesuatu yang baru, aneh, atau berbeda muncul, anak akan melihat wajah pengasuhnya untuk mengetahui apakah hal itu perlu dikhawatirkan atau tidak,"dikutip dari kanal YouTube ABC Science.

Fenomena ini dikenal sebagai social referencing atau referensi sosial. Melalui mekanisme tersebut, bayi menggunakan ekspresi wajah dan respons emosional orang dewasa sebagai panduan untuk memahami dunia di sekitar mereka.

Ketika orang tua menunjukkan ekspresi panik atau takut terhadap suatu objek, anak dapat menangkap sinyal tersebut sebagai tanda bahaya. Sebaliknya, jika orang tua terlihat tenang, anak cenderung tidak menganggap objek tersebut sebagai ancaman. 

Proses yang berlangsung berulang kali ini secara perlahan membentuk persepsi rasa takut hingga terbawa ke masa dewasa.

Meski demikian, para ilmuwan juga menemukan bahwa manusia memiliki kecenderungan evolusioner untuk lebih cepat mengenali dan mempelajari ancaman yang berpotensi membahayakan, termasuk ular. 

Dengan kata lain, manusia mungkin tidak terlahir takut terhadap ular, tetapi otak mereka relatif lebih mudah mempelajari rasa takut terhadap hewan tersebut dibandingkan terhadap benda yang tidak berbahaya.

Karena itu, mengajarkan kewaspadaan terhadap hewan berbahaya tetap menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak. 

Tujuannya bukan untuk menanamkan ketakutan berlebihan, melainkan membantu mereka mengenali risiko yang mungkin ditemui di lingkungan sekitar.

"Mengajarkan kewaspadaan terhadap hewan seperti ular merupakan keterampilan hidup yang berguna karena beberapa spesies memang dapat berbahaya. Jika rasa takut dapat dipelajari, apakah rasa takut juga bisa dihilangkan?" ujar narator.

Menurut ABC Science, karena sebagian besar fobia terbentuk melalui proses pembelajaran, para peneliti juga melihat adanya peluang untuk mengurangi atau menghilangkan ketakutan tersebut melalui terapi dan latihan psikologis yang tepat. 

Prinsip inilah yang menjadi dasar berbagai metode penanganan fobia modern yang digunakan hingga saat ini.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa ketakutan terhadap ular bukan sekadar persoalan naluri bawaan, melainkan hasil interaksi antara kecenderungan biologis dan proses belajar dari lingkungan. 

Dengan memahami bagaimana rasa takut terbentuk sejak masa kanak-kanak, para ilmuwan berharap dapat mengembangkan cara yang lebih efektif untuk membantu seseorang mengatasi fobia yang mengganggu kehidupannya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
lingkungan hewan bayi ular rasa takut