RADARTUBAN - Terus mengejar target besar tidak selalu membuat seseorang merasa puas setelah berhasil mencapainya.
Jika ambisi dibangun dari rasa takut dan kecemasan, pencapaian justru dapat membuat seseorang semakin lelah secara mental hingga berisiko mengalami burnout.
Fenomena tersebut disoroti Irene dalam unggahan video di kanal YouTube pribadinya, Irenethejournal.
Baca Juga: Bingung Cari Bakat? dr. Hendra Syah Bagikan Metode 4E untuk Kenali Potensi Diris
Dia membahas kondisi yang disebut survival ambition, yakni pola ambisi ketika seseorang terbiasa menggunakan rasa panik dan tekanan sebagai bahan bakar untuk terus bergerak.
Dalam kondisi tersebut, sistem saraf dan pikiran bawah sadar seolah terbiasa bekerja dalam keadaan tertekan.
Akibatnya, seseorang terus mengejar target bukan semata karena ingin berkembang, tetapi karena ingin menghilangkan rasa cemas yang muncul ketika berhenti.
Target Tercapai, Garis Finis Kembali Bergeser
Irene menggambarkan kondisi tersebut seperti seseorang yang menginjak pedal gas dan rem secara bersamaan ketika mengendarai mobil.
"Ngejar target besar pakai bahan bakar rasa takut itu bayangin kayak kamu tuh lagi nyetir mobil tapi pedal gas sama rem kamu injek bareng-bareng sekencang-kencangnya," ujar Irene.
Pola tersebut juga dapat membuat seseorang mengalami the moving goal post.
Istilah ini menggambarkan kondisi ketika standar kepuasan atau garis finis terus bergeser meski target sebelumnya telah berhasil dicapai.
Seseorang akhirnya sulit menikmati pencapaian karena pikirannya langsung tertuju pada sasaran berikutnya.
Target baru tersebut kemudian kembali dikejar untuk meredakan kecemasan yang muncul dalam diri.
Dalam jangka panjang, pola seperti ini dapat membuat proses mencapai kesuksesan terasa melelahkan.
Pencapaian yang seharusnya menjadi sumber kepuasan justru berubah menjadi tekanan untuk terus membuktikan diri.
Membangun Ambisi dari Rasa Cukup
Sebagai alternatif, Irene menekankan pentingnya membangun growth ambition atau ambisi bertumbuh yang berangkat dari sense of sufficiency atau rasa cukup.
Rasa cukup tidak diartikan sebagai sikap pasrah maupun kehilangan keinginan untuk berkembang.
Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi fondasi agar seseorang tetap memiliki ambisi tanpa menjadikan ketakutan sebagai satu-satunya sumber dorongan.
Dengan cara tersebut, ambisi dapat ditempatkan sebagai ruang eksplorasi dan pengembangan diri, bukan sekadar alat untuk melarikan diri dari kecemasan.
Untuk membantu mengelola kembali energi mental ketika kecemasan muncul, sejumlah langkah praktis juga dapat dilakukan.
Di antaranya mengatur pernapasan ketika mulai panik, mengubah narasi dalam dialog internal, serta memperbaiki postur tubuh.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah membedakan rasa cukup sebagai bagian dari identitas diri dengan ambisi sebagai proses untuk mengeksplorasi kemampuan.
Dengan pemisahan tersebut, seseorang tetap dapat memiliki target besar tanpa harus terus-menerus merasa dirinya belum cukup. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari