RADARTUBAN - Tayangan live streaming dan konten digital yang menampilkan ucapan kasar, perilaku agresif, hingga penggunaan rokok elektrik menjadi sorotan kanal YouTube Edutektif.
Dalam ulasannya, Edutektif mengingatkan bahwa anak-anak dan remaja merupakan kelompok yang masih berada dalam tahap perkembangan sehingga dapat lebih mudah belajar dari perilaku yang mereka lihat dari figur yang dikagumi.
Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks ketika streamer memiliki audiens anak dalam jumlah besar.
Interaksi yang berlangsung berulang melalui siaran langsung dapat membuat penonton merasa dekat dengan kreator meski hubungan tersebut hanya berlangsung satu arah. Kondisi itu dikenal sebagai relasi parasosial.
Melalui hubungan semacam ini, streamer dapat dipandang bukan sekadar pembuat konten, melainkan seperti teman, kakak, atau figur yang dianggap dekat oleh penontonnya.
Baca Juga: Link Live Streaming Upacara Penurunan Bendera HUT ke-81 RI Tuban, Saksikan Sore Ini
Anak Bisa Belajar dari Figur yang Ditonton
Edutektif kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan konsep social learning atau pembelajaran sosial.
Dalam psikologi, anak dapat mempelajari perilaku melalui pengamatan dan peniruan terhadap orang lain.
American Psychological Association (APA) juga menjelaskan bahwa anak belajar melalui observasi dan imitasi, termasuk dari perilaku orang-orang yang mereka lihat.
Karena itu, perilaku seorang streamer berpotensi menjadi contoh bagi penontonnya, terutama ketika figur tersebut dianggap sukses atau memiliki popularitas tinggi.
“Ketika sosok streamer itu ngomong kasar, toxic, atau nge-vape di depan kamera tapi tidak dapat teguran apa-apa, maka otak anak akan mencatat itu sebagai hal biasa. Apalagi jika streamer yang mereka tonton adalah orang yang terlihat sukses, maka bukan tidak mungkin anak menganggap perilaku tersebut sebagai bagian dari kesuksesan. Padahal perilaku toxic dan kesuksesan sama sekali tidak berhubungan,” dikutip dari kanal YouTube Edutektif.
Namun, pengaruh tersebut tidak berarti setiap anak yang melihat perilaku negatif akan otomatis menirunya.
Respons anak terhadap konten dipengaruhi banyak faktor, termasuk usia, lingkungan keluarga, pengalaman, serta cara mereka memahami tayangan.
Perkembangan Otak Anak Masih Berlangsung
Dari sisi perkembangan, masa anak-anak hingga remaja merupakan periode penting bagi pembentukan kemampuan mengendalikan diri dan mengambil keputusan.
National Institute of Mental Health (NIMH) menyebut otak masih mengalami proses pematangan hingga pertengahan atau akhir usia 20-an.
Prefrontal cortex, bagian otak yang berperan dalam perencanaan, menentukan prioritas, dan pengambilan keputusan, termasuk salah satu bagian yang berkembang paling akhir.
Karena itu, lingkungan sosial dan pengalaman selama masa remaja dapat ikut memengaruhi proses perkembangan tersebut.
Namun, klaim bahwa paparan konten toxic secara langsung merusak prefrontal cortex atau menumpulkan mirror neurons tidak dapat disimpulkan begitu saja dari bukti ilmiah yang tersedia.
Penelitian mengenai sistem neuron cermin memang menemukan hubungan antara aktivitas pada area yang berkaitan dengan proses mirroring dan kemampuan empati serta kompetensi interpersonal pada anak.
Namun, temuan tersebut tidak berarti konten digital toxic secara langsung merusak sistem tersebut.
Vape di Konten Anak Juga Jadi Perhatian
Selain bahasa kasar dan perilaku agresif, penggunaan rokok elektrik di hadapan audiens muda menjadi persoalan lain yang disoroti.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan nikotin bersifat sangat adiktif dan paparan nikotin pada anak serta remaja dapat mengganggu perkembangan otak. WHO juga menyoroti peran media sosial dan influencer dalam membuat produk rokok elektronik lebih menarik bagi kelompok usia muda.
Di Indonesia, WHO mencatat berdasarkan Global School Health Survey 2023, sebanyak 12 persen siswa berusia 13–17 tahun menggunakan rokok elektronik.
WHO juga memperingatkan bahwa pemasaran melalui media sosial dan influencer dapat turut menormalisasi penggunaan vape di kalangan anak dan remaja.
Karena itu, ketika penggunaan vape ditampilkan sebagai bagian dari gaya hidup atau hiburan dalam konten yang dapat diakses anak, persoalannya tidak hanya berkaitan dengan kebebasan kreator membuat konten, tetapi juga dengan bagaimana perilaku tersebut diterima dan ditafsirkan oleh penonton muda.
Tanggung Jawab Tak Hanya di Orang Tua
Edutektif juga menyoroti anggapan bahwa pengawasan terhadap tontonan anak sepenuhnya merupakan tanggung jawab orang tua.
Dalam praktiknya, perlindungan anak dari konten yang tidak sesuai usia membutuhkan keterlibatan lebih luas.
Orang tua tetap memiliki peran penting dalam mendampingi dan mengawasi konsumsi media, tetapi kreator juga dapat mempertimbangkan karakter audiens ketika memproduksi konten.
Terlebih, fitur interaksi langsung membuat hubungan antara kreator dan penonton semakin intens. Sapaan, komentar, hingga kebiasaan menonton berulang dapat membuat anak merasa memiliki kedekatan dengan figur yang mereka ikuti.
Pada titik tersebut, popularitas seorang streamer juga membawa tanggung jawab sosial yang lebih besar.
Konten digital memang dapat menjadi sarana hiburan dan edukasi. Namun, bagi penonton yang masih dalam tahap perkembangan, perilaku yang terus-menerus ditampilkan oleh figur yang mereka kagumi dapat menjadi salah satu sumber pembelajaran sosial.
Karena itu, persoalan streamer toxic tidak semata soal penggunaan bahasa kasar atau gaya hiburan. Ada pula pertanyaan mengenai batas tanggung jawab kreator, perlindungan anak, literasi digital, serta kemampuan keluarga dan platform dalam memastikan konten yang dikonsumsi sesuai dengan usia penonton. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni