RADARTUBAN – Hidup bagi Raditya Dika bukan lagi tentang memenuhi penilaian orang lain.
Dia memilih menjalani hidup berdasarkan nilai yang diyakini, mengejar kebahagiaan, dan tetap menjaga agar pilihan tersebut tidak merugikan orang lain.
Pandangan itu disampaikan Raditya Dika dalam perbincangannya podcast Self-Growth & Mindset. Penulis, komika, sekaligus kreator tersebut membagikan cara pandangnya mengenai kehidupan, keluarga, bisnis, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Raditya mengaku tidak terlalu memikirkan bagaimana dirinya dilihat oleh publik. Baginya, penilaian yang paling penting justru datang dari keluarganya, terutama anak-anak.
Baca Juga: Bongkar Rahasia Growth Mindset Gen Z, Sadam Permana Bagikan Pengalaman di Channel Raditya Dika
“Gua tuh enggak terlalu peduli apa yang orang lihat dari diri gua sih. Sebenarnya sih gua pengin anak-anak gua aja sih. Anak-anak gua tuh menilai bahwa kebahagiaan yang mereka dapat selama gua hidup tuh cukup buat mereka,” ujarnya.
Prinsip itu kemudian membuat Raditya lebih berfokus pada utilitas dan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan. Dia tidak lagi menjadikan standar benar atau salah menurut orang lain sebagai patokan utama.
“Gua tuh udah tidak memikirkan salah atau benar gitu. Gua cuman mikirin utilitas terbaik buat gua di hidup yang gua jalani dengan kebahagiaan maksimal yang gua punya tanpa membuat orang lain rugi,” katanya.
Pandangan serupa juga terlihat dalam cara Raditya mengelola bisnis. Dia menyoroti peluang produk digital yang memiliki biaya tambahan produksi sangat kecil. Salah satunya melalui penjualan pertunjukan stand-up comedy dalam bentuk unduhan digital.
Dia juga menekankan pentingnya menjaga product-market fit dan memahami buyer’s persona.
Menurutnya, karakter publik yang sudah terbentuk perlu menjadi pertimbangan ketika seseorang ingin memperkenalkan karya baru.
Di tengah perkembangan AI, Raditya justru memilih membatasi penggunaannya dalam karya kreatif. Teknologi tersebut menurutnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan seperti brainstorming, tetapi proses akhir sebuah karya tetap membutuhkan keterlibatan manusia.
“Sebagai final produk, gua lebih percaya human touch-nya. Gua lebih percaya bahwa harus kita yang ngerangkai karyanya,” tuturnya.
Raditya juga mengingat pengalaman ketika berusia 21–22 tahun sebagai fase yang membuatnya lebih rendah hati.
Dia menyadari bahwa merasa sudah mengetahui segalanya justru dapat membatasi proses belajar.
Baca Juga: Fakta Mengejutkan dari Rumah Tangga Raditya Dika, Istri Lahir di Mobil hingga Ritual Makan Unik
“Berpikir kalau kita ngerti segalanya, berpikir bahwa kita hebat, itu pelajaran yang gua dapat di umur 21. Dan gua baru ngeh ternyata banyak orang yang lebih hebat dari kita,” ujarnya.
Dalam pekerjaan, Dia turut menerapkan nilai PRET, yakni Productive, Respect, Enthusiastic learner, dan Trustworthy.
Keterbukaan terhadap kritik menjadi bagian dari upayanya mempertahankan proses belajar.
Bagi Raditya, hidup tidak harus dibentuk oleh pandangan banyak orang. Nilai yang diyakini, keluarga, proses belajar, serta sentuhan manusia dalam berkarya menjadi bagian dari cara ia menentukan arah hidupnya.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni