Tumbuh Kembang Anak Berbeda, Prof Hardiono Ingatkan Orang Tua Tetap Kenali Tanda Keterlambatan

Salsa Mardhotun Nafisah • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 17:12 WIB
Prof. Hardiono orang tua tak sembarang bandingkan perkembangan anak.(RADARTUBAN/AI)
Prof. Hardiono orang tua tak sembarang bandingkan perkembangan anak.(RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN – Setiap anak memiliki tahapan tumbuh kembang yang berbeda sehingga orang tua tidak perlu terburu-buru membandingkannya dengan anak lain.

Namun, perbedaan tersebut tetap perlu diperhatikan apabila jaraknya terlalu jauh dari tahapan perkembangan yang seharusnya.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. dr. Hardo D. Pusponegoro, SpA bsp.Neuro(K). dalam podcast Ngobrol Parenting yang diunggah kanal YouTube Learning Time Indonesia.

Dokter spesialis anak sekaligus guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut membahas berbagai hal terkait tumbuh kembang anak dan cara orang tua menyikapi setiap tahapannya.

Menurut Prof. Hardiono, perubahan pada anak merupakan bagian dari proses perkembangan. Setiap usia memiliki kemampuan yang berbeda sehingga orang tua perlu memahami tahapan tersebut sebelum memberikan penilaian terhadap anak.

Baca Juga: Konten Streamer Toxic Jadi Sorotan, Ingatkan Pengaruhnya terhadap Perilaku Anak

Prof. Hardiono mencontohkan kemampuan berjalan. Anak yang belum mampu berjalan ketika berusia satu tahun belum tentu mengalami gangguan karena kemampuan berjalan mandiri masih dapat berkembang hingga sekitar usia 18 bulan. 

Namun, apabila perkembangan anak sudah berada jauh di luar batas yang seharusnya, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian dan pemeriksaan.

“Setiap anak berbeda. Tapi bedanya tipis,” ujar Prof. Hardiono.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa orang tua tidak seharusnya menggunakan alasan setiap anak memiliki perkembangan berbeda untuk mengabaikan tanda keterlambatan.

Orang tua tetap perlu mengetahui patokan perkembangan agar dapat membedakan variasi yang masih sesuai dengan usia dan kondisi yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut.

Hal serupa dapat dilihat pada kemampuan berbicara, bersosialisasi, maupun mengendalikan emosi. Tantrum dalam waktu singkat yang dapat berhenti sendiri masih dapat terjadi pada anak.

Namun, perilaku yang berlangsung terlalu sering, berlebihan, atau sampai membahayakan diri perlu mendapat perhatian lebih.

Selain memperhatikan perkembangan, stimulasi juga perlu diberikan sesuai dengan usia anak. Aktivitas seperti bermain, berbicara, membaca buku bergambar, dan berinteraksi bersama orang tua dapat menjadi bagian dari stimulasi sehari-hari.

“Main itu mesti sesuai dengan umur perkembangan dia,” jelasnya.

Baca Juga: Nadiem Makarim Tetap Divonis 9 Tahun, Isu Anak Yatim Politik Muncul di Tengah Kasus Chromebook

Orang tua juga tidak perlu memaksakan anak untuk mengikuti kemampuan anak lain. 

Setiap stimulasi perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan dan kemampuan masing-masing agar anak dapat belajar secara alami.

Dengan memahami tahapan tumbuh kembang, orang tua dapat lebih tenang dalam mendampingi anak tanpa mengabaikan tanda yang membutuhkan perhatian.

Perbedaan perkembangan perlu diterima, tetapi keterlambatan yang mencolok tetap perlu dievaluasi agar anak memperoleh dukungan yang sesuai. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
membandingkan stimulasi perkembangan tumbuh kembang anak