RADARTUBAN – Komunikasi menjadi bagian penting ketika seseorang atau sebuah institusi menyampaikan pesan kepada publik.
Namun, pesan yang disampaikan tidak akan cukup apabila tidak diikuti dengan tindakan yang sesuai. Kesesuaian antara pesan dan tindakan menjadi salah satu hal yang dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Kania Cita dalam podcast bersama Dr. Prabu Revolisi yang diunggah melalui kanal YouTube Dr. Prabu Revolisi.
Dalam perbincangan tersebut, Kania membahas hubungan antara komunikasi, tindakan, dan kepercayaan publik, terutama ketika sebuah institusi harus menyampaikan sikap atau keputusan kepada masyarakat.
Menurut Kania, publik tidak hanya memperhatikan apa yang disampaikan melalui komunikasi, tetapi juga melihat tindakan yang dilakukan oleh pihak yang memiliki kewenangan dalam mengambil keputusan.
Baca Juga: Marak Modus Penipuan Perbankan, BRI Ajak Nasabah Tingkatkan Kewaspadaan dan Kenali Kanal Komunikasi
Pesan yang terdengar baik dapat kehilangan makna apabila tindakan yang dilakukan justru menunjukkan hal berbeda.
“Komunikasi enggak bisa melampaui aksi,” ujar Kania.
Dia menjelaskan, persoalan dapat muncul ketika tim komunikasi menyampaikan suatu pesan, sementara keputusan yang dibuat oleh pihak yang memiliki kewenangan justru bergerak ke arah berbeda.
Perbedaan tersebut membuat publik dapat melihat adanya jarak antara pernyataan yang disampaikan dengan tindakan yang benar-benar dilakukan.
“Jadi yang komunikasi ngomongnya ke mana, yang decision makernya bikin tindakan ke mana,” jelasnya.
Menurut Kania, kondisi tersebut penting diperhatikan karena komunikasi publik tidak berdiri sendiri. Pesan yang disampaikan akan dilihat kembali melalui tindakan dari pihak yang mengambil keputusan.
Karena itu, tim komunikasi perlu memahami keputusan yang akan dijalankan sebelum menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Kania juga menilai tingkat kepercayaan publik perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan cara berkomunikasi.
Ketika kepercayaan masyarakat sudah rendah, komunikasi yang terlalu banyak tidak selalu menjadi solusi.
Pernyataan yang disampaikan tanpa dukungan tindakan yang sesuai justru dapat menimbulkan pertanyaan baru di tengah masyarakat.
Dalam kondisi tertentu, komunikasi juga tidak harus selalu disampaikan secara panjang. Pernyataan yang lebih formal, terbatas, dan sesuai dengan situasi dapat menjadi pilihan ketika sebuah institusi belum dapat memberikan penjelasan secara luas.
Namun, bentuk komunikasi tersebut tetap perlu mempertimbangkan kondisi dan informasi yang benar-benar dapat disampaikan kepada publik.
Pembahasan Kania menunjukkan bahwa komunikasi publik bukan hanya persoalan memilih kata atau menyusun pesan.
Tindakan dari pihak yang memiliki kewenangan juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan karena masyarakat dapat membandingkan antara pernyataan dengan kenyataan yang mereka lihat.
Keselarasan tersebut menjadi semakin penting ketika sebuah institusi sedang menghadapi situasi yang membutuhkan kepercayaan masyarakat.
Pesan yang konsisten perlu didukung oleh keputusan dan tindakan yang menunjukkan arah yang sama. Dengan demikian, komunikasi tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan tindakan nyata yang dilakukan oleh pihak pengambil keputusan.
Karena itu, Kania menekankan bahwa komunikasi tidak dapat menggantikan aksi. Pesan yang disampaikan kepada publik perlu berjalan searah dengan tindakan agar informasi yang diberikan tidak bertentangan dengan kenyataan.
Keselarasan antara komunikasi dan aksi menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan publik. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni