Sering Cekcok dengan Pasangan? Tsamara Fahrana Ungkap Cara Mengelola Emosi Agar Hubungan Tetap Sehat

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 09:10 WIB
Ilustrasi sepasang pasangan yang dapat mengelola emosi dengan baik dan yang impulsif. (Radar Tuban/ AI)
Ilustrasi sepasang pasangan yang dapat mengelola emosi dengan baik dan yang impulsif. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN - Kemampuan mengelola emosi menjadi salah satu kunci menjaga hubungan asmara tetap sehat.

Saat menghadapi konflik atau perbedaan pendapat, cara seseorang merespons perasaan diri sendiri maupun pasangan dapat menentukan kualitas hubungan.

Pentingnya kesadaran emosional tersebut dibahas Tsamara Fahrana, Certified Meditation & Mindfulness Teacher, dalam tayangan Podcast Suara Berkelas.

Dalam tayangan youtube bertajuk “Seni Mengelola Emosi Pribadi & Pasangan yang Jarang Orang Bocorin!” itu, Tsamara mengajak masyarakat menerapkan mindfulness atau kesadaran penuh ketika menghadapi berbagai gejolak emosi. 

Baca Juga: Hubungan dan Luka Batin: Orang Terdekat Sering Jadi Guru Spiritual Terbaik Sekaligus Sumber Luka

Menurutnya, salah satu kesalahan yang kerap dilakukan adalah bereaksi secara spontan ketika marah, kecewa, atau cemas.

Padahal, respons impulsif saat emosi memuncak berisiko memicu komunikasi yang tidak sehat dan memperburuk konflik.

Pentingnya Memberi Jeda Sebelum Bereaksi

Tsamara menjelaskan, langkah awal dalam mengelola emosi adalah membiasakan diri untuk berhenti sejenak sebelum merespons sesuatu yang memicu perasaan atau trigger.

“Setiap kali emosi meluap, refleks pertama kita sebaiknya bukan langsung membalas atau menyerang, melainkan memberi jeda pada diri sendiri untuk menyadari apa yang sebenarnya kita rasakan,” ujar Tsamara.

Jeda tersebut memberi kesempatan bagi seseorang untuk mengenali perasaan yang muncul sekaligus mempertimbangkan respons yang lebih tepat.

Dia juga menekankan pentingnya menerima emosi negatif sebagai bagian yang wajar dari kehidupan.

Alih-alih menekan atau mengabaikan perasaan, seseorang perlu memvalidasi emosinya agar tidak melampiaskan amarah dengan cara yang merugikan diri sendiri maupun pasangan.

Kesadaran terhadap emosi juga membantu seseorang memahami batas kemampuan dirinya dalam menghadapi situasi tertentu.

Bangun Hubungan Sehat dengan Empati dan Keterbukaan

Dalam hubungan asmara, kemampuan mengelola emosi perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap perasaan pasangan.

Mengenali pola emosi masing-masing dapat membantu menciptakan ruang aman atau safe space dalam hubungan.

Ketika pasangan sedang diliputi emosi, Tsamara menyarankan agar seseorang tidak terburu-buru membalas dengan nada tinggi atau bersikap defensif.

Sebaliknya, empati dan kemampuan mendengarkan secara aktif perlu dikedepankan.

Keterbukaan dan kompromi juga menjadi bagian penting ketika pasangan membicarakan hal-hal yang memicu emosi.

Dengan komunikasi yang sehat, keduanya dapat memahami sudut pandang masing-masing tanpa harus terjebak dalam saling menyalahkan.

“Mengelola emosi bersama pasangan bukan berarti kita harus selalu sepakat, tetapi bagaimana kita bisa mendengarkan tanpa menghakimi dan mencari solusi tanpa harus saling menyalahkan,” tambahnya.

Pada akhirnya, menerapkan mindfulness bukan berarti menghilangkan seluruh perasaan negatif.

Pendekatan ini membantu seseorang lebih sadar dalam merespons berbagai situasi, sehingga dapat menghadapi konflik dengan lebih tenang, bijaksana, dan penuh kasih. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
perasaan negatif mengelola emosi hubungan asmara Mindfulness konflik