Mengapa Orang Bisa Terjerat Pinjol? Ini Alasan di Balik Lingkaran Utangnya

Sita Devi Alfiyah • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 08:10 WIB
Ilustrasi orang terjerat hutang pinjol. (Radar Tuban/ AI)
Ilustrasi orang terjerat hutang pinjol. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN - Jeratan pinjaman daring (pinjol) tidak selalu berawal dari keinginan memenuhi kebutuhan konsumtif.

Situasi darurat, tekanan ekonomi, hingga keputusan yang diambil dalam kondisi emosional dapat mendorong seseorang terjebak dalam lingkaran utang yang sulit dihentikan.

Fenomena tersebut disoroti kreator konten Ghibran Arrazi dalam pembahasan di kanal YouTube Arraziii.

Menurutnya, keputusan mengambil pinjaman online kerap dipengaruhi kondisi emosional, terutama ketika seseorang menghadapi masalah mendesak tanpa memiliki cukup pilihan untuk menyelesaikannya.

Baca Juga: Mengapa Melarikan Diri dari Utang Pinjol Justru Akan Menghancurkan Masa Depan Anda, Berikut Penjelasannya

“Pada dasarnya, pinjaman online itu murni keputusan emosional, bukan keputusan yang rasional,” ujar Ghibran.

Dalam video tersebut, dia menjelaskan bahwa kebutuhan mendadak seperti biaya pengobatan anggota keluarga, biaya sekolah anak, atau kendaraan yang rusak untuk bekerja bisa menjadi pemicu seseorang mencari pinjaman.

Ketika bantuan dari keluarga maupun kerabat sulit diperoleh, pinjol yang menawarkan akses cepat kerap dipilih sebagai jalan keluar.

Persoalan semakin rumit ketika peminjam tidak memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk melunasi kewajibannya.

Utang yang awalnya diambil untuk mengatasi masalah sesaat justru berpotensi berkembang menjadi beban berkepanjangan.

Tekanan Ekonomi dan Penagihan Memperparah Jeratan Pinjol

Dalam pembahasannya, Ghibran turut menyoroti perbedaan antara layanan pinjaman daring resmi dan ilegal.

Platform resmi beroperasi di bawah ketentuan yang berlaku, sedangkan pinjol ilegal dapat menawarkan pencairan cepat dengan persyaratan minim, tetapi disertai bunga dan denda yang tidak wajar.

Dia menggambarkan praktik pinjol ilegal yang membebankan kenaikan utang hingga 20–30 persen.

Besarnya biaya pinjaman tersebut dapat membuat debitur kesulitan melunasi kewajiban, terlebih jika pendapatannya terbatas.

Tekanan juga dapat muncul dari proses penagihan. Panggilan telepon berulang, makian, hingga ancaman penagihan dapat membuat peminjam mengalami tekanan psikologis dan kesulitan berpikir jernih.

Dalam kondisi terdesak, sebagian orang memilih strategi gali lubang tutup lubang.

Mereka mengambil pinjaman baru untuk membayar utang sebelumnya.

Namun, langkah tersebut justru berisiko memperbesar beban pembayaran karena bunga dan biaya pinjaman terus bertambah.

Jika berlangsung berulang, akumulasi utang yang semula bernilai jutaan rupiah dapat membengkak menjadi puluhan juta rupiah.

Pada situasi yang semakin sulit, sebagian korban bahkan tergoda menggunakan judi online sebagai upaya spekulatif untuk memperoleh uang dengan cepat.

Alih-alih menyelesaikan persoalan, keputusan tersebut justru berpotensi memperburuk kondisi keuangan dan memperpanjang lingkaran utang.

Literasi Finansial Tak Selalu Cukup Menghadapi Krisis

Fenomena pinjol juga menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari masalah utang.

Dalam pembahasan Ghibran, kelompok dengan latar belakang pendidikan tinggi, termasuk kalangan guru, turut disebut dapat menjadi korban.

Literasi finansial memang penting untuk membantu masyarakat memahami risiko pinjaman dan mengambil keputusan keuangan secara bijak.

Namun, kemampuan mengelola uang juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, kestabilan pendapatan, serta besarnya pengeluaran sehari-hari.

Ketika penghasilan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan rutin, munculnya pengeluaran darurat dapat membuat kondisi keuangan langsung terguncang.

Dalam keadaan seperti itu, kebutuhan untuk segera menyelesaikan masalah sering kali lebih mendominasi daripada pertimbangan risiko jangka panjang.

Karena itu, persoalan pinjol tidak cukup dipandang sebagai akibat dari buruknya pengambilan keputusan individu.

Tekanan ekonomi dan terbatasnya pilihan ketika menghadapi kebutuhan mendesak juga menjadi bagian dari persoalan yang perlu diperhatikan.

Memahami faktor-faktor tersebut penting agar masyarakat lebih waspada terhadap risiko pinjaman, sekaligus mendorong perhatian terhadap kondisi ekonomi yang membuat seseorang rentan terjerat utang. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
utang pinjol ekonomi pinjaman online finansial