Bukan Sekadar Jago Bicara, Erwin Parengkuan Ungkap Fondasi Komunikasi: Mindset dan Integritas

Salsa Mardhotun Nafisah • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 16:52 WIB
Kemampuan komunikasi bukan sekadar teknik berbicara, melainkan cerminan dari mindset. (RADARTUBAN/AI)
Kemampuan komunikasi bukan sekadar teknik berbicara, melainkan cerminan dari mindset. (RADARTUBAN/AI)
RADARTUBAN – Kemampuan berkomunikasi tidak cukup hanya dengan menguasai teknik berbicara.
Menurut komunikator dan coach Erwin Parengkuan, komunikasi yang baik justru berawal dari mindset, integritas, serta work ethic yang dimiliki seseorang.

Hal tersebut disampaikan Erwin Parengkuan  dalam kanal folknomics yang membahas bagaimana kemampuan komunikasi dapat memengaruhi kehidupan dan perjalanan karier seseorang.

Dalam podcast tersebut, Erwin membagikan pengalaman selama puluhan tahun berkecimpung di dunia radio, televisi, hingga menjadi coach komunikasi.

Erwin menilai integritas dan work ethic merupakan fondasi sebelum seseorang belajar mengembangkan kemampuan komunikasi.

Seseorang yang memiliki prinsip dan kemauan untuk terus belajar akan lebih mudah mengembangkan kemampuan dirinya, termasuk dalam berkomunikasi.

“Work ethic and integrity itu adalah fondasi number one,” ujar Erwin.

Menurutnya, integritas tidak hanya berkaitan dengan apa yang seseorang katakan, tetapi juga kesesuaian antara perkataan dan tindakan.

Baca Juga: Bukan Sekadar Pilih Kata, Kania Cita Soroti Pentingnya Keselarasan Komunikasi dan Tindakan

Sementara itu, work ethic membuat seseorang memiliki kemauan untuk terus belajar, mengamati orang lain, serta memperbaiki kekurangan yang dimiliki.

Erwin juga menekankan bahwa komunikasi tidak bisa dipandang sebagai kemampuan teknis semata.

Berdasarkan pengalamannya membangun sekolah komunikasi Talking, dia melihat kemampuan berbicara sangat dipengaruhi oleh pola pikir seseorang. Karena itu, pembelajaran komunikasi perlu dimulai dengan memahami diri sendiri sebelum mempelajari teknik penyampaian pesan.

“Komunikasi itu lahir dari mindset seseorang,” katanya.

Dia menjelaskan, seseorang perlu memiliki self-awareness untuk mengetahui siapa dirinya, apa yang ingin dicapai, serta bagaimana dirinya dipersepsikan oleh orang lain.

Setelah memahami diri, barulah seseorang dapat mempelajari berbagai aspek teknis seperti struktur komunikasi, presentation skills, bahasa tubuh, hingga cara memengaruhi audiens.

Selain itu, Erwin menilai kemampuan komunikasi juga membutuhkan pengetahuan dan bahan yang cukup.

Dia menyarankan seseorang memperbanyak wawasan melalui membaca buku, mengamati lingkungan, serta mempelajari berbagai sumber agar memiliki materi yang dapat disampaikan kepada orang lain.

Menurut Erwin, kemampuan komunikasi juga harus terus disesuaikan dengan perkembangan zaman dan karakter audiens.

Meski teknologi dan kecerdasan buatan semakin berkembang, komunikasi, kreativitas, critical thinking, dan kemampuan memahami manusia tetap menjadi kemampuan yang penting.

Karena itu, kemampuan berbicara tidak seharusnya hanya mengejar terlihat pintar atau menarik.

Komunikasi yang kuat perlu dibangun dari dalam diri melalui integritas, kemauan belajar, pemahaman terhadap diri sendiri, serta kemampuan menyampaikan pesan sesuai dengan kebutuhan audiens. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
erwin parenguan work ethic karier komunikasi