RADARTUBAN - Banyak laki-laki mengira penampilan fisik, harta, hingga status sosial menjadi faktor utama yang membuat perempuan tertarik.
Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan bagaimana ketertarikan bekerja dari sisi otak dan emosi.
Hal tersebut dibahas Ferry Irwandi melalui video di kanal YouTube miliknya berjudul Memahami Bagaimana Perempuan Jatuh Cinta dalam Neurosains.
Baca Juga: Benarkah Ada Fase ketika Seseorang Tidak Bisa Jatuh Cinta?
Dalam video tersebut dibahas bagaimana otak bekerja ketika seseorang menilai lawan jenis, sekaligus mengkritisi sejumlah anggapan mengenai maskulinitas dan ketertarikan.
Menurut pembahasan Ferry, perempuan tidak semata-mata mencari laki-laki dengan tubuh atletis, suara berat, kekayaan, atau status tinggi.
Salah satu hal yang lebih penting justru adalah rasa aman yang muncul ketika berada di dekat seseorang.
Perempuan Peka Membaca Sinyal Emosional
Ferry menjelaskan, otak perempuan memiliki sistem yang sensitif terhadap berbagai sinyal emosional.
Cara seseorang berbicara, ekspresi wajah, hingga kestabilan emosi dapat menjadi bagian dari penilaian terhadap lawan jenis.
Karena itu, seorang laki-laki bisa saja memiliki penampilan menarik, tetapi belum tentu memberikan kesan yang membuat perempuan nyaman.
Sebaliknya, sikap tenang, stabil, dan mampu memberikan rasa aman dapat menjadi daya tarik tersendiri.
Dalam konteks ini, ketertarikan bukan hanya persoalan apa yang terlihat secara kasatmata.
Otak juga memproses berbagai informasi dari interaksi yang terjadi, termasuk bagaimana seseorang bersikap ketika berbicara maupun menghadapi situasi tertentu.
Ferry juga menyinggung kebiasaan sebagian laki-laki yang terlalu banyak berusaha menjelaskan dirinya sendiri.
Mulai dari pekerjaan, kemampuan, pencapaian hingga kondisi finansial kerap dijadikan bahan untuk menunjukkan kualitas diri.
Padahal, menurut pembahasannya, terlalu banyak berusaha membuktikan diri justru dapat memberikan kesan berbeda.
Daya tarik seseorang tidak selalu muncul dari seberapa banyak hal yang mampu diceritakan, tetapi dari apa yang terpancar melalui perilakunya.
Kehadiran dan Sikap Lebih Berarti
Dalam hubungan antarmanusia, kemampuan untuk hadir dan mendengarkan juga menjadi bagian penting.
Laki-laki tidak harus selalu tampil sempurna atau mendominasi percakapan untuk mendapatkan perhatian perempuan.
Justru, cara menatap, mendengarkan, merespons pembicaraan, serta menunjukkan konsistensi dapat menjadi sinyal yang dinilai dalam sebuah interaksi.
Hal-hal kecil tersebut bisa membangun kesan nyaman dan aman.
Dari sisi neurosains, ketertarikan romantis sendiri berkaitan dengan aktivitas sejumlah bagian otak dan neurotransmiter seperti dopamin yang berperan dalam sistem penghargaan, motivasi, serta rasa senang.
Aktivitas tersebut turut menjelaskan mengapa seseorang bisa merasakan energi, kegembiraan, dan perhatian yang begitu kuat ketika sedang jatuh cinta.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa jatuh cinta bukan semata-mata persoalan wajah tampan, tubuh ideal, harta, atau status sosial.
Ada proses biologis dan emosional yang ikut bekerja ketika seseorang mulai tertarik kepada orang lain.
Karena itu, bagi laki-laki yang ingin memahami ketertarikan perempuan, menjadi diri sendiri, mampu mengelola emosi, dan menciptakan rasa nyaman bisa jauh lebih berarti daripada sekadar berusaha terlihat sempurna. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari