Pandangan soal Usia Ternyata Berkaitan dengan Kesehatan Lansia, dr. Indra Ungkap Dampak Stereotip

Salsa Mardhotun Nafisah • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 17:02 WIB
Pandangan seseorang tentang masa tua sejak muda dapat memengaruhi kesehatan saat lanjut usia. (RADARTUBAN/AI)
Pandangan seseorang tentang masa tua sejak muda dapat memengaruhi kesehatan saat lanjut usia. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN – Cara seseorang memandang usia tua ternyata dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan di masa lanjut usia.

Anggapan seperti lansia identik dengan pikun, lemah, dan sakit-sakitan tidak hanya membentuk persepsi sosial, tetapi juga dapat memengaruhi cara seseorang menjalani masa tua.

Hal tersebut dibahas dr. Indra Gunawan melalui kanal pribadinya dalam video yang mengulas berbagai penelitian mengenai longevity atau umur panjang.

Dalam pembahasannya, dr. Indra menjelaskan bahwa pandangan seseorang terhadap usia tua dapat terbentuk sejak muda melalui stereotip yang sering didengar dari lingkungan.

Salah satu penelitian yang dibahas dilakukan terhadap 660 orang berusia 50 tahun ke atas di Ohio, Amerika Serikat.

Peserta diminta menanggapi sejumlah pernyataan mengenai usia tua, salah satunya anggapan bahwa semakin tua seseorang maka semakin tidak berguna.

Baca Juga: Kaya Likopen, Tomat Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Pembuluh Darah

Setelah 23 tahun, jawaban tersebut dibandingkan dengan data kematian. Kelompok yang memiliki pandangan lebih positif terhadap usia tua tercatat hidup sekitar 7,5 tahun lebih lama dibandingkan kelompok dengan pandangan negatif. 

Meski demikian, penelitian tersebut merupakan studi pengamatan sehingga belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Penelitian lain kemudian digunakan untuk menguji kemungkinan bahwa pandangan negatif muncul karena seseorang memang sudah memiliki kondisi kesehatan yang buruk.

Dalam studi tersebut, pandangan terhadap orang tua diukur ketika peserta masih berusia 18 hingga 49 tahun dan belum mengalami gangguan kardiovaskular.

Sekitar 30 tahun kemudian, 25 persen peserta yang sejak awal memiliki pandangan negatif mengalami serangan jantung, stroke, atau gangguan kardiovaskular lainnya.

Sementara pada kelompok dengan pandangan positif, angkanya 13 persen. Faktor seperti tekanan darah, kebiasaan merokok, dan riwayat keluarga turut diperhitungkan.

dia menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan konsep stereotype embodiment, yakni ketika stereotip mengenai usia tua yang diterima sejak muda dapat terbawa hingga seseorang memasuki usia lanjut.

“Stereotype negatif dikaitkan dengan respon stres yang lebih tinggi,” jelas dr. Indra.

Baca Juga: Waspada! Rematik Kini Mengintai Usia Produktif, Bukan Cuma Penyakit Orang Tua

Selain respons stres, stereotip negatif juga dapat memengaruhi perilaku. Lansia yang memiliki ekspektasi rendah terhadap kondisi tubuhnya cenderung menganggap pemeriksaan atau pengobatan kurang penting. 

Sebaliknya, pandangan yang lebih positif dapat mendorong seseorang untuk tetap memperhatikan kemampuan fisik dan kesehatannya.

Pembahasan tersebut juga menekankan pentingnya menghindari anggapan bahwa keluhan kesehatan merupakan hal yang otomatis terjadi karena usia.

Keluhan seperti nyeri yang baru muncul, menetap, atau mengganggu aktivitas tetap perlu diperiksa untuk mengetahui penyebabnya.

Karena itu, usia lanjut tidak seharusnya selalu dipandang sebagai fase yang identik dengan kelemahan dan ketidakberdayaan.

Cara pandang yang lebih positif perlu dibarengi perhatian terhadap kesehatan agar proses penuaan tidak hanya dilihat dari bertambahnya usia, tetapi juga dari kemampuan seseorang untuk tetap aktif dan menjalani kehidupan dengan baik. (*) 

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
stereotype embodiment kesehatan lansia usia tua