Pasangan Harus Selevel? Ternyata Begini Arti Kesetaraan dalam Cinta

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 13:56 WIB
Ilustrasi pasangan muda.
Ilustrasi pasangan muda.

RADARTUBAN - Anggapan bahwa hubungan asmara yang langgeng harus dibangun oleh pasangan yang memiliki latar belakang, pendidikan, status sosial, hingga kondisi finansial yang selevel masih banyak dipercaya.

Padahal, kesetaraan dalam hubungan tidak selalu berarti kedua pasangan harus memiliki segala sesuatu yang sama.

Hal tersebut dibahas dalam podcast di kanal Youtube Ruang Tunggu berjudul Kesetaraan dalam Cinta: Haruskah Pasangan Selalu Selevel?.

Baca Juga: Jangan Asal Cari Jodoh! Psikolog Sarankan Kenali Diri sebelum Mencari Pasangan

Dalam pembahasan tersebut, kesetaraan dalam hubungan lebih ditekankan pada kemampuan pasangan untuk saling menyeimbangkan, menghargai kontribusi masing-masing, serta memiliki arah yang sama dalam menjalani kehidupan bersama.

"Kesetaraan bukanlah tentang menyamakan segala hal secara persis, melainkan tentang bagaimana dua individu saling menyeimbangkan peran, menghargai kontribusi masing-masing, dan memiliki kesamaan visi dalam menyelesaikan masalah," ungkap dr. Andreas Kurniawan Sp.KJ dalam tayangan tersebut.

Bukan Harus Sama, tetapi Punya Nilai dan Tujuan yang Selaras

Perbedaan karakter antara pasangan, seperti introvert dan ekstrovert, tidak selalu menjadi persoalan utama dalam hubungan.

Begitu pula dengan perbedaan lainnya yang selama ini kerap dianggap sebagai penentu kecocokan.

Ada sejumlah hal yang justru dinilai lebih penting ketika pasangan menjalani hubungan dalam jangka panjang. Salah satunya adalah nilai inti atau core values.

Nilai tersebut berkaitan dengan prinsip hidup yang dianggap penting oleh seseorang, termasuk pandangan terhadap agama, keluarga, hingga cara menjalani kehidupan.

Selain itu, pasangan juga perlu memiliki pandangan yang relatif selaras mengenai masa depan.

Misalnya, keinginan memiliki anak, pilihan karier, maupun prinsip dalam membangun keluarga.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah pola komunikasi dan kemampuan menyelesaikan masalah.

Konflik dalam hubungan merupakan sesuatu yang mungkin terjadi. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana pasangan menghadapinya.

Masalah yang terus dipendam atau sengaja dihindari justru dapat menjadi beban dalam hubungan. Karena itu, keterbukaan dan kemampuan mencari solusi bersama menjadi bagian penting dari hubungan yang sehat.

Kesetaraan juga tidak berarti seluruh kontribusi dalam rumah tangga harus dibagi persis 50:50.

Pembagian tugas finansial, pengasuhan anak, pekerjaan rumah, maupun dukungan emosional bisa saja berbeda sesuai kondisi masing-masing pasangan.

Yang lebih penting adalah adanya kesepakatan bersama mengenai pembagian peran tersebut.

Tidak boleh ada pihak yang merasa terus-menerus terbebani atau merasa dieksploitasi.

Ketimpangan Bisa Muncul, Hubungan Perlu Beradaptasi

Kesetaraan dalam hubungan juga bukan sesuatu yang selalu berada dalam kondisi tetap. Seiring berjalannya waktu, situasi kehidupan pasangan dapat berubah.

Salah satu pasangan, misalnya, bisa mengalami perkembangan karier yang jauh lebih pesat.

Sebaliknya, pasangan lainnya mungkin menghadapi kondisi kesehatan atau situasi tertentu yang membuat kontribusinya berubah.

Dalam kondisi seperti itu, hubungan perlu beradaptasi. Komunikasi yang sehat dan kemauan untuk saling mendukung menjadi penting agar perubahan tersebut tidak berkembang menjadi persoalan baru.

Hubungan juga sebaiknya tidak dipandang sebagai transaksi yang menuntut kedua pihak selalu memberikan sesuatu dalam jumlah yang sama.

Kontribusi setiap pasangan dapat berbeda pada satu fase dan berubah pada fase lainnya.

Bagi seseorang yang masih mencari pasangan, rasa hormat terhadap diri sendiri atau self-respect juga menjadi hal penting.

Termasuk dengan menentukan batasan atau hal-hal yang tidak dapat ditawar (non-negotiable) dalam sebuah hubungan.

Di sisi lain, seseorang juga perlu terus mengembangkan kapasitas dirinya agar dapat bertumbuh bersama pasangan.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan semata-mata ditentukan oleh seberapa mirip latar belakang kedua orang di dalamnya.

Kesamaan nilai, visi masa depan, komunikasi, serta kemampuan menyelesaikan masalah justru menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan.

Jika sebuah hubungan tidak lagi sehat dan berdampak buruk terhadap kondisi mental kedua pihak, keberanian untuk mengambil keputusan terbaik juga menjadi bagian dari upaya menjaga diri dan pasangan. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
saling menyeimbangkan kesetaraan hubungan pasangan